Powered by Max Banner Ads 

« | Home | »

Teriak di Balik Bantal, Menyanyi di Kamar Mandi, Menggali dengan Sendok Teh

By Eep | August 7, 2007
Topics: Opini, Social Life | 30 Comments »

closePosting ini ditulis kira-kira 2 tahun 6 bulan 5 hari yang lalu. Ada kemungkinan ketidakrelevanan isi tulisan dengan situasi sekarang ini.

“Suaranya terdengar seperti dibalik bantal”, komentar seorang audiophile ketika menyimak kualitas sebuah sistem audio. Artinya kualitas audio/rekaman tersebut tidak “bright” alias mendem. “Seperti ada semacam kelambu atau selaput yang menghalanginya”, itu lebih mendingan daripada dibalik bantal. Ya mendem, ga jelas artikulasi dan paling parah adalah ketika SPL (Sound Presure Level) juga menjadi berkurang.

Percuma memang kita teriak-teriak dengan mulut tertutup bantal. Atau agak sia-sia kita berharap orang tahu suara kita bagus kalau kita cuma bernyanyi di kamar mandi. Dan tentu saja berat pekerjaan tukang kebun kalau harus menggali tanah dengan sendok teh.

Perlu ada pemilihan sarana, waktu dan tempat yang tepat ketika kita ingin meng-goalkan suatu maksud atau tujuan. Tidak salah tukang kebun memiliki sendok teh, asal digunakan untuk mengaduk secangkir teh atau kopi. Tidak salah kita punya bantal, kalau digunakan untuk teman melepas penat dan beristirahat. Pun tidak salah kita latihan menyanyi di kamar mandi, meskipun akustik kamar mandi entah mengapa sering membuat kita merasa telah memiliki pitch control yang baik :D .

Sejak minggu lalu, saya sudah berniat menurunkan tulisan ini, tetapi ada saja kebuntuan pikiran mau memulai dari mana. Ketika rekan saya menulis tentang pentingnya sumbang sawer ilmu, saya kembali merasa prihatin seperti yang pernah saya alami pada bulan Juni 2006. Belum sempat saya turunkan tulisan ini, sudah ditambah dengan hebohnya masalah klaim penemuan rekaman seluloid lagu Indonesia Raya di media massa terutama televisi.

Ya, saya prihatin, kalau melihat diagram piramida yang dibuat Adinoto (ternyata bukan hanya Maslow yang bisa bikin diagram piramida :D ), sebanyak 68% rakyat Indonesia dikatakan tidak melek IT dan hanya sebagian kecil yang melek IT. Nah, yang tidak melek IT inilah yang sekarang banyak sekali menjadi ajang pembodohan atau ya dibodoh-bodohi itu. Menurut Adinoto, masyarakat yang masuk strata 68% ini akan terkagum-kagum dengan istilah-istilah bombastis IT, macam metadata, server Belanda, riset, dll.

Lebih prihatin lagi ketika ternyata banyak sekali petinggi negeri ini yang masuk dalam strata 68% tidak melek IT. Jadi anggaran belanja laptop itu kemudian menjadi mubazir karena laptop hanya dipakai muter lagu MP3 dan nyimpen klip-klip video bokep? :D Bahkan, banyak para wartawan media massa yang juga tidak melek IT. Ketika ada suatu berita, terlihat kurang usaha untuk mencari imbangan berita dan validitasnya. Padahal, seandainya wartawan mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke Mbah Gugel atau ke semacam YouTube, tentu televisi-televisi itu tidak akan begitu saja menayangkan berita murahan, yang bisa masuk kategori GaGunaBanged™ macam tayangan selingkuhan & perceraian para artis itu.

Ya, kalau saja kita mau meluangkan waktu paling tidak 2 jam lah untuk mencari apa data yang kita inginkan di ranah internet, sebagian besar dapat ditemukan. Pun hanya sekedar mencari lagu Indonesia Raya asli yang ternyata bukan berasal dari sever di Belanda. Mikir-mikir, bagaimana ya kalau itu perpustakaan Belanda menyimpan servernya di IIX? Apa masih dikatakan berasal dari server di Belanda? Mbuh, wong saya juga masuk strata 68% itu kok. Hehehe

Ada satu lagi sebetulnya keprihatinan saya dalam masalah mencerahkan kategori 68% ini. Sampai saat ini, saya melihat bahwa kalangan yang melek IT masih banyak yang seperti tukang kebun menggali tanah menggunakan sendok teh. Ketika Sang Pakar membodohi masyarakat dengan menggunakan buldozer, sebagian para melek IT masih saja menggali tanah menggunakan sendok teh.

Artinya, banyak kalangan melek IT yang menghindari publikasi di media massa. Lebih senang mempublikasikan diri di ranah maya, dengan menulis blog misalnya. Tetapi kita lihat, apakah strata 68% ini juga sudah membiasakan diri untuk membuka ranah internet? Mau bertanya kepada Mbah Gugel? Saya kira sih kurang. Yang banyak bersosialisasi di ranah internet tetap saja sebagian besar adalah kalangan melek IT. Lalu bagaimana dengan kalangan 68% tadi? Apakah kalangan melek IT sudah memikirkan cara mencerahkan mereka? Jangan hanya terus dibodohi saja?

Ayolah kawan-kawan melek IT, jangan takut dengan ketenaran hanya gara-gara masuk televisi menyampaikan informasi yang benar. Ayolah, jangan hanya chatting dan cek email saja, bagaimana kalau ikut berkiprah menjadi pembicara seminar misalnya, atau menulis di media massa. Bagaimana kalau bangun komunitas yang bisa sejalan dengan kaum jurnalis. Kasihan kan mereka juga dibodoh-bodohi terus? Atau apakah memang jurnalis sekarang senengnya bikin berita konyol? “There is no good news, like bad news”, kata Elliot Carver dalam film Tomorrow Never Dies.

Kalau saya lihat sepak terjang Sang Pakar Pembodohan dan Gila Hormat ini, selalu menggunakan alat dan media yang berbeda dengan para melek IT. Makanya tidak aneh beliau tidak menggunakan blog dan semacamnya untuk publikasi, karena YBS tahu bahwa itu bukan area yang tepat bagi dia untuk aktualisasi diri. Dan media yang dia pergunakan sangat tepat, yaitu televisi dan media cetak. Dimana hingga saat ini menurut saya sih masih jauh lebih tinggi penetrasinya dibandingkan dengan akses internet di negara FakirBenwit ini. Lah, kayaknya ga ada deh warung tegal yang menyediakan akses internet di warungnya, kalau televisi sih ada lah.

So kawan-kawan melek IT, masihkah dirimu sibuk menyendiri chatting dan hanya bersosialisasi secara maya dengan kawan-kawan melek IT sajahhh? Ketika pembodohan itu terjadi, sibuk teriak tapi dari balik bantal. Mendem tuh boss..! :D

Tulisan-tulisan terkait aksi pembodohan itu di antaranya:

Apa jadinya kalau ybs jadi dewan pakar kominfo atau bahkan jadi menteri? Apa kita akan diam saja? Ayo lawan!!


 Powered by Max Banner Ads 

Related posts

30 Responses to “Teriak di Balik Bantal, Menyanyi di Kamar Mandi, Menggali dengan Sendok Teh”


  1. Gravatar Icon hielmy Says:
    August 7th, 2007 at 3:42 pm

    itulah kang…si om ‘you know who’ ini sekarang sekarang dalam proses aktualisasi diri :lol:
    saya heran kenapa yah masih banyak yang percaya sama ‘tokoh kita’ ini? padahal udah jelas di yutub aja udah di aplot sejak 2006, di buku lagu2 wajib juga ada yang 3 stanza itu.koq kayaknya heboh banget gitu..ampe ada beberapa pejabat yang percaya. memprihatinkan!
    btw di komentar video youtube masih ada pula yang belain si om kumis ini, apa disangkanya yang aplot itu si mas PAKAR ini? ada2 ajah….


  2. Gravatar Icon indonesia raya: epilog « things left unsaid Says:
    August 7th, 2007 at 6:17 pm

    [...] konvensional yang pengaruhnya masih lebih luas di indonesia ini. seperti eep yang mengibaratkan menulis di blog seperti menggali dengan sendok teh, atau seperti berteriak dari balik bantal, atau seperti riyogarta yang mempertanyakan mengapa tidak ada pakar IT yang melakukan bantahan di [...]


  3. Gravatar Icon Riyogarta Says:
    August 7th, 2007 at 7:56 pm

    Setuju!
    Saya rasa sudah saatnya bagi mereka yang kompeten segera meluruskannya. Kadang kala ketenaran harus dilawan oleh ketenaran juga ;)


  4. Gravatar Icon adit Says:
    August 8th, 2007 at 11:06 am

    *menunggu kang EEP tampil di TV :D


  5. Gravatar Icon Eep Says:
    August 8th, 2007 at 11:24 am

    #3 & #4:
    nah tu dia.. saya bisa muncul di televisi, tapi kan saya bukan pakar… :D nanti nambah lagi daftar orang so called pakar deh..
    wakakkak


  6. Gravatar Icon Indonesia Raya - sejarah yang terlupakan atau sengaja dilupakan? « Sandy’s Blog Says:
    August 8th, 2007 at 12:46 pm

    [...] suryoherman – konsultasi dr. monika – indonesia rayariyogarta – tidak adakah yang laineepinside – teriak di balik bantal, menyanyi di kamar mandi, menggali dengan sendok tehsandynata – Indonesia Raya – klarifikasi dari tim Airputihsandynata – Upil asli dari server belanda [...]


  7. Gravatar Icon sandynata Says:
    August 8th, 2007 at 12:47 pm

    #hielmy
    yah anggap aja yang kasi komen itu adalah korban, kasian rakjat ketcil jang tidak tahoe apa apa di bodohi oleh itoe orang poenja nama Roy!


  8. Gravatar Icon ryosaeba Says:
    August 10th, 2007 at 1:13 pm

    berikut ini adalah mail dari seorang yang melek internet, di milis technomedia, wartawan, ex kompas cybermedia:

    On 8/6/07, lily bertha < lily_bertha@yahoo.com > wrote:

    yang saya heran malah pernyataannya Des Alwi, bahwa itu bukan hal baru dan dia produsernya bla-bla, menyimpan copy aslinya dst.Sebenarnya apakah nggak lebih baik kalau benar dia lebih banyak tahu mestinya disebarluaskan untuk publik dan bukan disimpan sendiri, karena ini kan kaitannya dengan sejarah.

    Saya malah berterima kasih karena mas Roy punya inisiatif mempublikasikan temuan itu, lepas dari baru atau tidak. Dulu ketika saya masih di kompas cyber media, beliau pernah sangat membantu saya untuk ngasih masukan beberapa kasus yang saya tulis. dan mestinya dengan makin banyaknya ketidaktepatan fakta sejarah seperti sekarang,makin banyak orang harus berinisiatif meluruskan atau memberikan input….

    Salam,

    Lily Bertha Kartika


  9. Gravatar Icon S a k t i Says:
    August 10th, 2007 at 3:53 pm

    Kang Eep…. Setuju!!!!!


  10. Gravatar Icon Eep Says:
    August 10th, 2007 at 9:42 pm

    #8. ryosaeba:

    ya mungkin lily bertha memang merasa terbantu oleh mas RS. oleh karena itu dukung RS? :D .

    Eh yang disimpan Des Alwi itu apa…? klip Indonesia Raya apa text lagunya? kalau text lagunya kan udah lama ada di buku sejarah. kalau lily bertha sampai tidak tahu.., hmmm ga koment ah.. :D


  11. Gravatar Icon Eep Says:
    August 10th, 2007 at 9:43 pm

    halah ga baca dengan teliti, Des Alwi produsernya, berarti pegang klipnya ya..

    :oops:

    Sakti: setuju apanya….?
    hehehehe


  12. Gravatar Icon S a k t i Says:
    August 12th, 2007 at 12:03 pm

    jangan teriak dibalik bantal tapi dibalik guling… wakakakak.. halah, apa aja lah.. yang penting setubuh!! eh setuju…. :oops:


  13. Gravatar Icon Noe Says:
    August 18th, 2007 at 12:18 pm

    hmm..lama gak baca..tp tergugah aja kata2 produser..secara gw hidup di musik..

    Des alwi sepanjang saya tau adalah salah satu org yang menyimpan file aslinya rekaman itu. baik dalam bentuk analog tape (mungkin reel tape)..tp bukan produser..krn pada jaman itu..sangat tidak memungkinkan seorang memproduseri sebuah rekaman. Teknologi rekaman juga blum banyak berkembang..

    Dugaan bahwa itu dibikin oleh jepang sebagai bagian dari propaganda sangat mungkin..krn jepang sangat agresif waktu itu dan propaganda office nya sangat aktif.

    Tp dari teknologi yg ada pada saat itu..ya sangat terbatas banged..dan tidak semua negara punya…
    di Indonesia PPFN dan Lokananta kalo gak salah baru tahun 50an..dan baru thn 60an industri musik di indonesia mulai menggeliat..

    CMIIW


  14. Gravatar Icon Eep Says:
    August 18th, 2007 at 3:23 pm

    #13. Noe.
    bener banget, tu rekaman kayaknya sih jepang yang sponsori.


  15. Gravatar Icon mamat Says:
    August 19th, 2007 at 2:15 am

    Eksistensi dan keberadaan yang diakui dari suatu berita pastinya akan membuka aib “SOK TAHU” dari satu dan beberapa pihak yang membuat dengan sebenar – benarnya atau mencari http://biarmasuktipi.com. Dan nanti, pastinya Orang pintar akan tau mana yang harus diakui. Karena orang pintar gak gampang masuk angin :lol:


  16. Gravatar Icon ryosaeba Says:
    August 21st, 2007 at 4:41 pm

    di dalam kolom yang ditulis oleh roy suryo di gatra:

    Bilamana sikap pengecut –sebagian berkomentar miring di belakang (baik melalui SMS, e-mail, milis, blog, bahkan ada yang sengaja menggelar jumpa pers menentang)– yang terus-terusan dilakukan, sampai kapan masyarakat hanya akan disuguhi sajian tak bermutu.

    kalau saya sih, tulisan beliau ini patut kita preservasikan dan dibedah paragraf per paragraf, agar makin banyak yang tahu seberapa licin dan jahatnya orang ini. anda bisa mulai dengan menulis paparannya di blog anda ini.


  17. Gravatar Icon Eep Says:
    August 21st, 2007 at 8:47 pm

    wessss…, krmt rs ini licin banget kata-katanya. patut kita acungkan jempol untuk satu keahliannya yang luar biasa.., mengolah lidah tak bertulang
    :D


  18. Gravatar Icon things left unsaid Says:
    August 22nd, 2007 at 1:44 pm

    gatra: dilarang komentar!

    beda paling menonjol antara media konvensional dengan media baru adalah tingkat timbal balik yang ditayangkan di media tersebut. memang ada surat pembaca dan sebagainya untuk media konvensional, namun masih melalui proses penyaringan lewat redaksi. det…


  19. Gravatar Icon sufehmi Says:
    August 23rd, 2007 at 9:18 pm

    @RyoSaeba – jadi bingung, apa mungkin di berbagai jurusan jurnalistik tidak diajarkan topik investigative journalism ya …. ?

    Sayang ya, kalau wartawan tapi tidak kritis sama sekali.


  20. Gravatar Icon Eep Says:
    August 24th, 2007 at 1:18 am

    suhefmi:
    jangan-jangan memang wartawan indonesia memang males untuk kritis, layaknya “wartawan” infotainment yang juga cuma cari-cari sensasi.

    yang penting beritanya bikin heboh, ga peduli soal kebenaran & perimbangan berita.

    Scammmmm..


  21. Gravatar Icon sgf_skl Says:
    August 24th, 2007 at 1:47 am

    Saya juga setuju!!

    mas, saya orang baru nih.. kalo mo nanya2 boleh? :mrgreen:


  22. Gravatar Icon Eep Says:
    August 24th, 2007 at 5:28 am

    sgf_skl:
    mau nanya apa ya…? :mrgreen:


  23. Gravatar Icon Made Says:
    August 27th, 2007 at 10:43 pm

    Pak Eep,
    saya setuju sekali dengan tulisan ini dan berharap nanti Anda yang mempeloporinya, kok yang melek IT pada apatis ya, itung2 ikut mencerdaskan bangsa dong :)
    Cheers..


  24. Gravatar Icon Eep Says:
    August 28th, 2007 at 3:27 am

    #23. Made:
    itu dia…, RS menggunakan alat dan jenis pertempuran yang berbeda dengan so called para pakar IT. dia sibuk dengan misalnya raket badmintonnya, sedangkan para pakar IT sibuk melawannya dengan menjuarai balap motor. ga ketemu.

    coba para pakar IT juga mau terjun badminton..

    eh kenapa jadi ke olah raga ya..?

    saya yang memulai..? waduh saya kan bukan pakar IT. saya sih seniman, heheheh


  25. Gravatar Icon acwin Says:
    August 28th, 2007 at 11:58 am

    Pertempurannya pakai mobil antik/kuno Mas Eep :lol:


  26. Gravatar Icon Eep Says:
    August 28th, 2007 at 12:09 pm

    #25, acwin:
    naaaah…, boleh tuh pake mobil antik, kekekek


  27. Gravatar Icon cassanova Says:
    August 28th, 2007 at 11:34 pm

    Salam kenal mas Eep. Numpang comment ya.

    Saya setuju tuh sama ide nya supaya orang2 yang melek IT bersatu dan menggunakan media tradisional juga.

    Mungkin mereka yang melek IT bisa mulai dengan membuat sebuah forum online “Media Watch” atau apalah namanya yang penting punya fungsi kontrol. Libatkan masayarakat luas untuk terlibat dalam forum. Kalo nggak, start lewat milis deh yang gampang. Supaya pihak media sadar kalau mereka diawasi masyarakat, jadi pemberitaannya nggak ngaco.

    Karena menurut saya yang penting medianya dididik. Jadi nggak asal pilih nara sumber. Kalau medianya buta bagaimana pembacanya?

    Segitu aja deh, dah ngantuk nih.


  28. Gravatar Icon Eep Says:
    August 28th, 2007 at 11:55 pm

    #27. cassanova:
    sayangnya, banyak orang2 melek IT yang sudah merasa cape, lelah dan apatis. padahal menegakkan kebenaran tentunya tidak mengenal kata lelah dan apatis.
    kalau dibiarkan terus ya gimana dong..?

    padahal orang2 melek IT ini memiliki potensi yang luar biasa. sayangnya, kebanyakan dari mereka sibuk bersosialisasi di dunia maya (internet), dimana tentu kalangan yang dibodohi tadi boro-boro mikir internet.

    kalau terus2an menggunakan media yang memang lebih banyak digunakan oleh kalangan “lebih pintar”, “lebih melek” yaitu tadi internet, lalu bagaimana nasib yang tidak menggunakan internet? apakah akan dibiarkan saja dibodohi terus..?

    mau tidak mau.., kalangan melek IT harus membangun koneksitas jaringan dengan media “konvensional” yang lebih banyak diakses oleh target2 pemodohan.

    sghhh…


  29. Gravatar Icon wahyuadi Says:
    September 4th, 2007 at 12:02 am

    Mas Eep,

    “Bahkan, banyak para wartawan media massa yang juga tidak melek IT.”

    Betul. Setidaknya itu pengamatan saya sebagai IT helpdesk engineer di biro daerah salah satu harian nasional terbesar di Indonesia. Sejauh yang bisa saya lakukan adalah menjadi teman diskusi rekan wartawan saat menulis tentang TI. Tetapi jangkauan saya terbatas, tidak sampai 20 orang :(
    Syukurlah mereka semua lebih berhati-hati dan memilih berposisi netral saat meliput you-know-who.

    “#27. cassanova:
    sayangnya, banyak orang2 melek IT yang sudah merasa cape, lelah dan apatis. padahal menegakkan kebenaran tentunya tidak mengenal kata lelah dan apatis.
    kalau dibiarkan terus ya gimana dong..?”

    Mungkin mereka menganggap hal-hal seperti ini adalah /distraction/. Analog dengan ungkapan Eric S Raymond saat bilang “Shut up and show them the code!” atau Paul Graham yang menekankan bahayanya /distraction/ dalam sebuah startup. Sulit menentukan lebih produktif mana membalas setiap manuver “sang pakar” di medan perang yang sama dibandingkan dengan berjuang sebaik mungkin di bidang keahlian TI kita masing-masing agar ybs dengan sendirinya menjadi /obsolete/.


  30. Gravatar Icon Fikri Says:
    October 16th, 2007 at 7:06 am

    Negeri kita penuh opportunis. Dari mulai mafia barkeley yang tak punya muka dan harga diri mengkhianati soekarno sampai pada mas RS.
    Selamat Juang para pakar.

    I’m a Newbie..


Comments


  •  Powered by Max Banner Ads 
  • Random Quote

    Cinta sering diucapkan dengan kata-kata, Cinta sering dilakukan tanpa perbuatan, Cinta sering disebut tapi tidak dikenal, Cinta tidak mengenal cemburu, Cinta tidak mengenal pamrih… — Dicky Zainal Arifin

  • Categories

  • Archives

  • Calendar

    February 2010
    M T W T F S S
    « Jan    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
  • RSS AnakAnakKreatif.Com

  • RSS Silokabudaya News

  • Tag cloud

  • Last Book Collection

    faq62h 0071477845-01-lzzzzzzz sukses-berbisnis-di-internet-dalam-29-hari-panduan-praktis-membangun-bisnis-internet-yang-sukses-dalam-29-hari-sc cover_layout_edisi_2009_fro1 cover2 0909050305385275-1
  • Last Movie

    the_spy_next_door_poster_02 mpw-43848 film22041b avatar-movie-poster d9istrict_9_movie_poster14 lastlegionposter2

  • This blog read by
    page counter
    people at this time

    Firefox 3