« Mengenal Diri Anda Yang Sesungguhnya Melalui Grafologi | Home | Bergaul Dengan “Charger” »
Dimanakah Kesantunan Kaum “Intelektual”?
By Eep | June 28, 2006
Topics: I Love Bandung, Social Life | 11 Comments »
Posting ini ditulis kira-kira 3 tahun 7 bulan 14 hari yang lalu. Ada kemungkinan ketidakrelevanan isi tulisan dengan situasi sekarang ini.Forum Mahasiswa Bandung kemarin mengadakan unjuk rasa menuntut diadilinya Eyang Soeharto. Aksi mahasiswa berawal di Kampus Unisba, terus bergerak ke Jl. Wastukencana dan kemudian ke Jl. Merdeka. Saya jadi ingat sewaktu jaman mahasiswa dulu. Senang rasanya bisa menyuarakan jeritan hati
. Namun saya lihat sekarang unjuk rasa mahasiswa kok semakin lama semakin banyak yang tidak simpatik, arogan dan cenderung anarkis. Memang tidak semua begitu, tetapi nyatanya aksi yang dilakukan kemarin telah menjadi bukti arogansi mahasiswa yang disebut sebagai kaum intelek, kaum beradab dan memiliki otak lebih encer.
Aksi yang dilakukan kemarin telah melakukan pemblokadean Jl. Wastukencana yang menyebabkan kemacetan yang luar biasa. Mereka dengan sengaja telah menutup badan jalan sehingga kendaraan tidak bisa lewat dan terhenti agak lama. Masalahnya, Jl. Waktukencana yang dibuat searah adalah merupakan jalan utama alias tidak ada jalan lain kalau mau menuju ke arah Jl. Merdeka, Juanda, atau Purnawarman harus melewati jalan tersebut (ini karena di seputar kawasan itu banyak diberlakukan jalan satu arah).
Aksi ini menjadi pertanyaan bagi saya: Dimanakah rasa sopan santun dan kepedulian mahasiswa intelek tersebut? Bagaimana kalau pada saat itu ada orang yang sedang ditunggu untuk wawancara masuk kerja kemudian jadi terlambat dan tidak diterima bekerja? Bagaimana kalau saat itu ada orang yang harus segera tiba di rumah sakit tetapi tidak menggunakan ambulans? Berapa banyak kerugian yang ditimbulkan karena BBM yang terbuang oleh kemacetan yang ditimbulkan?
Oke, mereka mungkin berkata: “Ayo anda semua yang terjebak macet di jalan ini, anda harus ikut merasakan penderitaan rakyat akibat ulah pemimpin Orde Baru, apa artinya bensin mobil anda yang terbuang dengan penderitaan rakyat negeri ini.” Lho.., pola pikir intelektual macam apa yang seperti ini. Bukankah semua tindakan dan aksi kita tidak boleh merugikan orang banyak, bukankah justru harus mendatangkan manfaat buat rakyat?
Satu keheranan yang sangat besar bagi saya, dimanakah mereka meletakkan otak mereka yang katanya encer? Di dengkul? Maka jangan heran, kalau hari ini mereka vokal berteriak keras menentang pemerintah, coba kita lihat, berapa banyak mahasiswa yang dulunya aktivis, kritis, akhirnya bisa duduk dengan manis ketika mendapat jabatan yang enak di pemerintahan, di BUMN?
Saya mengamati fenomena kekerasan, arogani, anarkis ini sepertinya memang sudah menggejala. Orang-orang semakin keras dan gampang emosi, tidak lagi menggunakan akal sehat. Dulu, yang namanya anak jarang ada yang berani melawan orang tua, mereka santun dan hormat kepada orang tua. Tapi coba kita lihat sekarang, tidak sedikit anak yang tidak lagi menghormati orang tuanya. Berapa banyak berita yang menyebutkan kekerasan yang dilakukan oleh kaum generasi muda. Geng motor, tawuran sekolah, tawuran mahasiswa.
Apakah karena mereka sudah kehilangan cinta kasih keluarga? Sudah kehilangan belaian kasih sayang orang tua?
Hai kaum intelektual, kami tidak ingin melihat seberapa encer otakmu, tetapi kami ingin melihat mana akhlakmu?






June 28th, 2006 at 9:35 am
( termangu … )
( tercenung … )
( menghela napas … )
( totally speechless … )
…
June 28th, 2006 at 3:19 pm
[...] Membaca posting pak Eep, saya jadi teringat masa2 masih jadi mahasiswa dulu. Dalam kuliah saya yg enam tahun (byeh :p), sebagian besar waktu saya dihabiskan di dunia kemahasiswaan. [...]
June 28th, 2006 at 8:19 pm
temen saya pernah cerita, dosen di Unisba berkata begini:
“daripada kamu teriak2 anti-Amerika dan membakar celana2 jeans, menyegel restoran fast food, mending BELAJAR YG BENER!!! Nanti kalau lulus dgn memuaskan, kamu bikin perusahaan besar menyaingi Levis atau Lea, misalnya JEANS CAP KADAL. kemudian tulis ‘Lowongan kerja disini khusus untuk rakyat jelata saja’”
tapi bagus juga kang mahasiswa banyak demo gitu, daripada ga ada kerjaan
June 28th, 2006 at 11:34 pm
ah…asli emang
bikin macet pisan2an
asli katanya punya otak tapi pake acara blokade2an jalanan…
asli bener kayak org kampung yg ga pernah skolah
apa bedanya coba sih yg skola & ngaku intelek tapi protestnya pake cara org kampung?!
June 29th, 2006 at 12:54 am
#4, emang iya.., banyak orang intelek yang kampungan juga.., di milis-milis juga banyak.., hobby nyela orang, kesinggung dikit marah, tapi kalau lagi di forum umum (kopdar alias kopi darat) atau di diskusi terbuka.., malah diem seribu bahasa…
kalau pun ngomong berpendapat.., bujubuneng…, bahasanya muter-muter ka karuan..
June 29th, 2006 at 11:34 pm
Dalam diri orang yg ditindas .. selalu terkandung “kekaguman” terselubung pada mereka yang menindas, dan teraktualisasi pula dalam bentuk-bentuk yang tak berbeda dari apa yg sebenarnya mereka kritik.
Ariel Heryanto pernah dengan sinis nyindir mahasiswa dengan sebutan MahaSia … maha sia-sia kali maksudnya
June 30th, 2006 at 9:45 pm
*aduh, kejitak pak Eep*
Ampun pak, dulu jaman saya masih kuliah, demo yang saya ikuti ndak boleh memblokade jalan. Jalan raya cuma boleh dipake maksimal 1 lajur (seperempat keseluruhan badan jalan).
Bahasa dan kelakuan mencerminkan isi ‘asli’ seseorang. Jadi -menurut saya- walaupun dia -tampak- pintar, tapi kalau bicara muter-muter ruwet ya berarti aslinya dia ngga cerdas.
Cerdas itu bicara secara pas. Pas gayanya, pas panjangnya, pas topiknya, pas waktunya, pas pendengarnya, dan pasti harus mudah dimengerti.
Hehe… kok saya malah jadi curhat di sini. (lagi?!)
September 4th, 2006 at 3:54 pm
he..he..he biarin aja namanya juga mahasiswa,bukan kaum intelektual kok???
January 18th, 2008 at 2:49 pm
[...] oleh Guntar di/pada Juni 28, 2006 Membaca posting pak Eep, saya jadi teringat masa2 masih jadi mahasiswa dulu. Dalam kuliah saya yg enam tahun (byeh :p), [...]
October 31st, 2008 at 10:31 am
Mengerikan, itulah kesan pertama saya ketika membaca opini Pak Eep! Kok ada ya orang yang sedang ditindas tp g sadar…. malah nyalahin orang yg demo lg, jgn2 malah Pak Eep yg g punya Ahlaq atw otaknya terlalu beku dengan kenikmatan Dunia? Hmmm…… Bisa dibayangkan kalo semua Rakyat Indonesia punya pemikiran seperti Bapak yang satu ini,sampai kapan kita harus makan nasi Aking di Lumbung Padi! subjektifitas mengalahkan Objektifitas……
October 31st, 2008 at 10:46 am
@Red:
Anda salah mengerti tulisan saya. Kalau dari tulisan saya diatas, pesan saya cuma satu: kalau memperjuangkan nasib rakyat, jangan bikin susah rakyat harus antri berjam-jam karena kemacetan, ada orang yang mau berangkat kerja cari nafkah naik angkot kena macet karena yang demo ngabisin jalan (arogan ngabisin jalan). Supir angkot berkurang setorannya, bensin habis ga karuan..
Kalau mahasiswa itu intelek dan memperjuangkan nasib rakyat, kata saya sih yang ginian pasti terpikir.. jangan menyengsarakan rakyat. Demo boleh saja, tapi sampaikan dengan cara yang santun dan tidak merugikan rakyat/orang lain.
Ini kan yang saya tampilkan kasus per kasus, tidak general. Untuk kasus di atas, saya heran kenapa mahasiswa tersebut ngotot ngambil jalan umum, kenapa ga jalan di trotoar saja, toh trotoar wastu kencana luas dan lebar. Ini yang saya bilang arogan dan ga intelek.
Saya ga mau generalisasi ya… ga semua demo murni memperjuangkan nasib rakyat, saya bukan sekali dua kali melihat pendemo yang abis demo dibagi-bagikan amplop berisi duit… dan itu yang demo menggunakan nama mahasiswa (forum mahasiswa apa gitu..)
Kalau semua rakyat Indonesia seperti Anda, mengerikan.. karena ga bisa membaca dan menyelami tulisan di atas dengan baik..
belajar membaca dulu deh sebelum memvonis tulisan di atas mengerikan
kemudian baca baik-baik komentar orang lain atas tulisan di atas.. tidak ada satu pun yang menyalahkan demo mahasiswa. Yang salah adalah kalau demo tersebut MENYENGSARAKAN RAKYAT.