Powered by Max Banner Ads 

« | Home | »

Kita Membuang Uang Receh Rp 1,5 milyar Setiap Hari

By Eep | June 23, 2006
Topics: Social Life, World of Children | 5 Comments »

closePosting ini ditulis kira-kira 3 tahun 7 bulan 19 hari yang lalu. Ada kemungkinan ketidakrelevanan isi tulisan dengan situasi sekarang ini.

Sadarkah Anda, bahwa kita, penduduk Jakarta, setiap harinya membuang uang receh ke jalanan hingga mencapai 10 digit setiap harinya. Mari kita berhitung. Jumlah anak jalanan di Jabodetabek saat ini berdasarkan data terakhir dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencapai angka 75.000. Pendapatan mereka seharinya bisa mencapai Rp 20.000 – Rp 30.000. Bila kita ambil Rp 20.000 dikalikan 75.000 anak, berarti kita membuang uang receh (cepek, gopek, seceng) sebesar 1.500.000.000 alias 1,5 milyar per hari!

Kita membuat mereka betah di jalan.

Perhitungan matematis di atas menimbulkan satu pertanyaan ironis yang besar. Bisa jadi kitalah yang membuat anak-anak itu betah berada di jalan. Dengan mengamen, mengemis, menyapukan kemoceng di atas dashboard mobil, atau menyodorkan amplop sumbangan – satu anak jalanan usia SD bisa memiliki penghasilan yang beda tipis dengan lulusan diploma. Begitu mudah bagi mereka. Tanpa perlu capek-capek sekolah, susah-susah melamar kerja, toh hasilnya hampir sama.

Jajan, main dingdong, dan setoran

Tanpa maksud menggurui, Sahabat Anak sepakat dengan salah satu program UNICEF, yakni berhenti memberi uang kepada anak-anak jalanan. Dari sekian penelitian yang dilakukan sejumlah LSM, uang yang diperoleh anak-anak marjinal ini, sebagian besar tidak mendukung peningkatan kesejahteraan mereka. Jajan, ada di peringkat pertama; main dingdong atau permainan elektronik lainnya, menjadi pilihan kedua; terakhir, setoran ke orang tua atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan. Jadi, bocah-bocah berpenampilan kumuh ini pun tetap miskin, tetap terancam putus sekolah, dan tetap berkeliaran di jalan.

Siapkan biskuit, permen, susu kotak

Setelah memahami penjelasan di atas, keputusan dikembalikan kepada Anda semua. Mari, menjadi sahabat anak yang tidak memanjakan, tapi melakukan tindakan serta bantuan yang langsung bisa mereka nikmati. Sebagai pengganti uang receh, berikan mereka nutrisi bergizi atau barang layak pakai. Mulai sekarang, sediakan dalam tas atau mobil Anda: biskuit, permen, buah, susu kotak/botol, atau barang-barang bermanfaat lainnya – yang langsung bisa diberikan saat tangan-tangan kecil itu menengadah di dekat Anda.

Tulisan ini saya peroleh dari sebuah milis di internet.


 Powered by Max Banner Ads 

Related posts

5 Responses to “Kita Membuang Uang Receh Rp 1,5 milyar Setiap Hari”


  1. Gravatar Icon Kombor Says:
    June 23rd, 2006 at 10:10 pm

    Aku juga dapat email tentang itu, Kang. Isinya berupa seruan agar kita berhenti memberi receh kepada anjal karena kalau kita beri terus, mereka akan semakin betah di jalanan. Tapi, opo yo kita sampai hati kalau ngasih gopek buat satu anjal sehari saja nggak mau? Kalau negara nggak ngurusi mereka, opo yo kita yang jadi rakyat akan sampai hati membiarkan mereka kesrakat ora karuan?


  2. Gravatar Icon Guntar Says:
    June 24th, 2006 at 10:17 am

    Saya kira, pertanyaannya bukanlah apakah kita tega membiarkan mereka kesrakat (entah, artinya apa ini. LoL), lebih tepatnya adalah “Apakah kita tega membiarkan mereka menderita NANTI di kemudian hari?”
    Jika kita berikan mereka gopek (&assuming byk org lakukan hal yg sama) mereka memang akan senang, Hari Ini, setidaknya sampai sore hari. Tapi apa jadinya mereka 20 tahun mendatang? Bukankah menjadi peminta2 jalanan tidaklah mendatangkan peningkatan knowledge & kompetensi yg berdaya jual tinggi utk menyelamatkan masa depan mereka nanti. & Bukankah mereka nanti akan berkeluarga?
    Jangankan anjal yg tingkat pendidikannya belum tinggi, temen2 muda spt saya aja masih banyak yg belum bisa mengendalikan hasrat raih kesenangan sesaat bila udah megang uang; lebih suka pada pemenuhan immediate pleasure.


  3. Gravatar Icon Syafrudin Says:
    June 27th, 2006 at 1:36 pm

    #1:
    Terhadap pertanyaan: “opo yo kita sampai hati kalau ngasih gopek buat satu anjal sehari saja nggak mau? Kalau negara nggak ngurusi mereka, opo yo kita yang jadi rakyat akan sampai hati membiarkan mereka kesrakat ora karuan?”
    Buat saya, Anjal ada tiga kelas: Anjal Enterpreneur (pengasong), Anjal Semi-Parasit (pengamen & polisi cepek) dan Parasit (pengemis).
    Saya sangat “tega” terhadap anjal pengemis, jangankan gopek, cepek-pun tidak, di sisi lain sangat hormat pada anjal pengasong. Di tengah – tengah, saya suka plin – plan kalau terhadap anjal pengamen dan “polisi cepek”.
    Saya selalu membawa pundi uang receh ke manapun, namun ketika ada anjal pengemis yang menadahkan tangan, tetap saya tidak bisa menyalurkannya ke mereka. Sebaliknya, saya biasanya mengalihkannya menjadi janji, saya mesti membeli sesuatu dari anjal pengasong. Saya selalu berkata pada diri sendiri bahwa kalau saya tidak membeli dagangan anjal pengasong (karena misalnya tidak membutuhkannya barang yang didagangkan) tetapi malah memberi ke anjal pengemis (misalnya karena toh cuma cepek), berarti saya tidak menghargai usaha mereka bahkan menghancurkan semangat mereka dalam berusaha. Coba kita bayangkan berapa banyak air minum gelas yang harus dijual seorang pengasong untuk mengumpulkan LABA sebesar 10.000 rupiah. Di sisi lain, bandingkan dengan pengemis ?
    Saya sangat tersentuh ketika saya secara tidak sengaja mendengar seorang pengasong mengeluh dan berujar mungkin sebaiknya dia beralih jadi pengamen saja.

    Bagaimana kalau seperti di Bandung sini agak susah ketemu anjal pengasong (kecuali di KRD dan terminal) ? Saya mengalihkan recehan itu ke kotak amal FOSI di rumah. Kebetulan di kelurahan Sekeloa ini ada FOSI yang menyebarkan kotak amal mereka untuk ditaruh di rumah. Meski cuma recehan, ternyata dalam sebulan bisa juga terkumpul sekitar lebih dari 15.000 rupiah, dan dari seluruh RW, FOSI mendapat jutaan rupiah yang kemudian disalurkan sebagai dana anak yatim, beasiswa dan sejenisnya.


  4. Gravatar Icon Catatan Perjalananku » Blog Archive » Belajar tega terhadap anak jalanan dan pengemis Says:
    September 9th, 2008 at 9:02 am

    [...] untuk jadi "raja tega". Sebuah pendapat menarik saya baca di EepInside.Com. Penulis komentar itu mengkatagorikan anak-anak jalanan menjadi 3 katagori. [...]


  5. Gravatar Icon Andai Lintang, Ikal, Kucai, A Kiong dan Kawan-kawannya Bersekolah di Jakarta « agus.com Says:
    October 20th, 2008 at 10:52 pm

    [...] Bisa jadi kitalah yang membuat anak-anak itu betah berada di jalan. Dengan mengamen, mengemis, menya… Possibly related posts: (automatically generated)Perlukah Revolusi Pendidikkan Nasional? [...]


Comments


  •  Powered by Max Banner Ads 
  • Random Quote

    Man Arafa Nafsahu, Fakat Arafa Rabbahu: Barang Siapa Mengenal Dirinya Maka IA akan Mengenal Tuhan-nya — Hadist Qudsi

  • Categories

  • Archives

  • Calendar

    February 2010
    M T W T F S S
    « Jan    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
  • RSS AnakAnakKreatif.Com

  • RSS Silokabudaya News

  • Tag cloud

  • Last Book Collection

    faq62h 0071477845-01-lzzzzzzz sukses-berbisnis-di-internet-dalam-29-hari-panduan-praktis-membangun-bisnis-internet-yang-sukses-dalam-29-hari-sc cover_layout_edisi_2009_fro1 cover2 0909050305385275-1
  • Last Movie

    the_spy_next_door_poster_02 mpw-43848 film22041b avatar-movie-poster d9istrict_9_movie_poster14 lastlegionposter2

  • This blog read by
    page counter
    people at this time

    Firefox 3