<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>EepInside.Com</title>
	<atom:link href="http://eepinside.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eepinside.com</link>
	<description>selalu ada tunas baru, setiap hari</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Feb 2010 23:04:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bupati dan Wakil Bupati Garut, Ngapain Aja Ya Kerjanya?</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1879</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1879#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 23:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asli Garut]]></category>
		<category><![CDATA[Healthy Life]]></category>
		<category><![CDATA[Side Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Garut]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tertib Berwarganegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1879</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini membaca berita di Pikiran Rakyat soal sampah yang menumpuk di beberapa ruas jalan Kota Garut. Tumpukan sampah ini terjadi karena sudah tiga bulan tenaga kerja kontrak kebersihan belum mendapat honor!! Bupati Garut kan katanya ustad, tentu faham betul jargon &#8220;Kebersihan itu sebagian dari iman&#8221;, dan &#8220;Bayarlah upahnya sebelum keringatnya kering&#8221;. Lalu Wakil Bupatinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini membaca berita di Pikiran Rakyat soal sampah yang menumpuk di beberapa ruas jalan Kota Garut. Tumpukan sampah ini terjadi karena sudah tiga bulan tenaga kerja kontrak kebersihan belum mendapat honor!! Bupati Garut kan katanya ustad, tentu faham betul jargon &#8220;Kebersihan itu sebagian dari iman&#8221;, dan &#8220;Bayarlah upahnya sebelum keringatnya kering&#8221;. Lalu Wakil Bupatinya adalah seorang seniman/artis, tentunya mencintai keindahan dan kebersihan.</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1232" title="Tindak Lanjut Pajak dengan Pak Yustinus (1) (September 1, 2008)">Tindak Lanjut Pajak dengan Pak Yustinus (1)</a> (0)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=551" title="Kulinari Lebaran (October 14, 2007)">Kulinari Lebaran</a> (8)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1545" title="Castle Animation Melakukan Pembodohan Kepada Anak-Anak Indonesia? (March 4, 2009)">Castle Animation Melakukan Pembodohan Kepada Anak-Anak Indonesia?</a> (30)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1518" title="Hapuskan Angkot di Kota-Kota Besar (February 18, 2009)">Hapuskan Angkot di Kota-Kota Besar</a> (8)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1276" title="Kalau Tidak Bisa Berdiri, Sholatlah Sambil Duduk (October 14, 2008)">Kalau Tidak Bisa Berdiri, Sholatlah Sambil Duduk</a> (13)</li>
</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1879</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sunyi, Sepi</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1876</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1876#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 11:10:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya Tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1876</guid>
		<description><![CDATA[tertawa bersama, terlepas terbahak-bahak
wajah cerah tanpa mendung mengurung
aku pun turut tertawa, terbahak,
mata tertutup, perut terguncang
sejenak kepenatan hidup pun hilang
terbawa lepas bersama nafas mulut ke udara
bercampur debu, hilang menguap begitu saja
tapi&#8230; terkadang&#8230; ada masanya
hidupku terasa sepi sekali,
sunyi senyap di tengah keriuhan
apakah itu juga alasan Tuhan
menciptakan Hawa sebagai teman sejati Adam?
untuk mengusir kesepian Adam?
padahal Adam sudah ditemani puluhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>tertawa bersama, terlepas terbahak-bahak<br />
wajah cerah tanpa mendung mengurung<br />
aku pun turut tertawa, terbahak,<br />
mata tertutup, perut terguncang<br />
sejenak kepenatan hidup pun hilang<br />
terbawa lepas bersama nafas mulut ke udara<br />
bercampur debu, hilang menguap begitu saja</p>
<p>tapi&#8230; terkadang&#8230; ada masanya<br />
hidupku terasa sepi sekali,<br />
sunyi senyap di tengah keriuhan<br />
apakah itu juga alasan Tuhan<br />
menciptakan Hawa sebagai teman sejati Adam?<br />
untuk mengusir kesepian Adam?<br />
padahal Adam sudah ditemani puluhan malaikat?</p>
<p>Tuhan.., siapakah yang akan jadi teman sejatiku<br />
soulmate belahan jiwaku.. ?</p>
<p>tak ada jawaban.. kembali sunyi, kembali sepi..<br />
</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em></p>
<p></em></p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1237" title="Pedagang Tidak Boleh Jadi Pejabat? Pedagang adalah Profesi Yang Hina? (September 3, 2008)">Pedagang Tidak Boleh Jadi Pejabat? Pedagang adalah Profesi Yang Hina?</a> (8)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1421" title="Do&#8217;aku Hari Ini (January 9, 2009)">Do&#8217;aku Hari Ini</a> (4)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1149" title="Basa-Basi Artis (August 3, 2008)">Basa-Basi Artis</a> (3)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1760" title="Aku Ingin Selalu Bersamamu, Melindungi dan Memelukmu (September 16, 2009)">Aku Ingin Selalu Bersamamu, Melindungi dan Memelukmu</a> (0)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1597" title="Menjaga Hati, Pikiran, Tindakan, dan Lisan, serta Selalu Riang Gembira (April 1, 2009)">Menjaga Hati, Pikiran, Tindakan, dan Lisan, serta Selalu Riang Gembira</a> (6)</li>
</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1876</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AnakAnakKreatif.Com</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1874</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1874#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 12:28:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Science, Technology & Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[World of Children]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1874</guid>
		<description><![CDATA[Melihat perkembangan anak-anak yang suka menulis cerita, dan juga bercerita dengan gambar, membuat saya tergerak untuk mendokumentasikan semua catatan cerita dan gambar-gambar mereka. Saya kemudian mencari-cari nama domain yang tepat untuk mereka, tetapi ternyata ketika saya tanya, mereka punya keinginan nama domain sendiri. Awalnya mereka ingin creativekids.com, tetapi karena sudah digunakan oleh pihak lain, mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat perkembangan anak-anak yang suka menulis cerita, dan juga bercerita dengan gambar, membuat saya tergerak untuk mendokumentasikan semua catatan cerita dan gambar-gambar mereka. Saya kemudian mencari-cari nama domain yang tepat untuk mereka, tetapi ternyata ketika saya tanya, mereka punya keinginan nama domain sendiri. Awalnya mereka ingin creativekids.com, tetapi karena sudah digunakan oleh pihak lain, mereka pun setuju dengan nama domain blog mereka dengan anakanakkreatif.com.</p>
<p>Semoga menjadi sarana belajar beraktualisasi dan menyalurkan kemampuan mereka. Amien</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1491" title="Film Knight Rider (February 7, 2009)">Film Knight Rider</a> (16)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1271" title="Morning Exercise (October 11, 2008)">Morning Exercise</a> (2)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1770" title="Pembajakan Account Facebook (September 25, 2009)">Pembajakan Account Facebook</a> (1)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=962" title="Browser Selain Internet Explorer Dilarang? (July 11, 2008)">Browser Selain Internet Explorer Dilarang?</a> (22)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1856" title="Mamahku, Sosok Ibu Yang Luar Biasa (January 7, 2010)">Mamahku, Sosok Ibu Yang Luar Biasa</a> (2)</li>
</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1874</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penampakan Mac di Film-Film Disney</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1870</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1870#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 10:57:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Audio & Video Hobby]]></category>
		<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[My Mac World]]></category>
		<category><![CDATA[World of Children]]></category>
		<category><![CDATA[Animasi lilin]]></category>
		<category><![CDATA[Bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Macintosh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1870</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Pixar dibeli sahamnya oleh Disney, kemunculan gadget-gadget Apple dalam film-film Disney makin sering. Barusan saya dan anak-anak menonton film G-Force, beberapa kali muncul Macbook, Apple Cinema Display, dll. Saya baru ngeh karena anak-anak yang bicara sama saya: &#8220;Ayah-ayah.. itu komputer dan laptopnya sama dengan punya kita di rumah.&#8221; Memang, produk-produk Apple sangat sering digunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1871" class="wp-caption alignleft" style="width: 171px"><a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/MPW-43848.jpeg"><img class="size-medium wp-image-1871 " title="G-Force Movie" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/MPW-43848-201x300.jpg" alt="" width="161" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">G-Force Movie</p></div>
<p>Sejak <a href="http://www.msnbc.msn.com/id/11003466/" target="_blank">Pixar dibeli sahamnya oleh Disney</a>, kemunculan gadget-gadget Apple dalam film-film Disney makin sering. Barusan saya dan anak-anak menonton film <a href="http://www.imdb.com/title/tt0436339/" target="_blank">G-Force</a>, beberapa kali muncul Macbook, Apple Cinema Display, dll. Saya baru <em>nge</em>h karena anak-anak yang bicara sama saya: &#8220;Ayah-ayah.. itu komputer dan laptopnya sama dengan punya kita di rumah.&#8221; Memang, produk-produk Apple sangat sering digunakan sebagai property dalam berbagai film, kecuali dalam film-film yang berada di bawah naungan Sony Pictures (MGM, TriStar, dkk). Sebagai contoh di film-film Bond terbaru, yang muncul dapat dipastikan Sony Ericsson, dan Vaio.</p>
<p>Kali ini anak-anak tidak mau menonton film dalam format 3D, padahal G-Force diputar juga dalam format Dolby 3D di Ciwalk XXI. Alasannya, &#8220;Abis cape pake kacamatanya melorot terus, kan hidung kita pesek.&#8221; Halaaah, hehehehe.. Kayaknya teknologui 3D harus memikirkan untuk membuat kacamata 3D yang pas buat anak-anak. Yang sekarang kan memang berukuran besar dan hanya cocok buat orang dewasa, yang juga hidungnya mancung ala bule. <img src='http://eepinside.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1483" title="Nonton Film dengan Khusyu (January 21, 2009)">Nonton Film dengan Khusyu</a> (3)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1352" title="Nonton &#8220;Bolt&#8221; di Ciwalk XXI, Sayang Tidak Dalam Format Digital 3-D :( (December 8, 2008)">Nonton &#8220;Bolt&#8221; di Ciwalk XXI, Sayang Tidak Dalam Format Digital 3-D :(</a> (6)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1209" title="Mac, Everywhere :D (August 26, 2008)">Mac, Everywhere :D</a> (5)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1545" title="Castle Animation Melakukan Pembodohan Kepada Anak-Anak Indonesia? (March 4, 2009)">Castle Animation Melakukan Pembodohan Kepada Anak-Anak Indonesia?</a> (30)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1266" title="Mohon Doa Kesembuhan untuk Istri Tercinta (October 6, 2008)">Mohon Doa Kesembuhan untuk Istri Tercinta</a> (22)</li>
</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1870</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jrekk Noong</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1866</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1866#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 12:34:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan, Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Silokabudaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1866</guid>
		<description><![CDATA[
Terima kasih untuk sahabatku, Abah Otox,  

	Related posts
	
	Pemilu Sudah Menunggu (0)
	Tangkuban Perahu Dicoret dari Daftar Tujuan Wisata Asing (2)
	Kampung Sampireun, Surga Di Tanah Parahyangan (1)
	Duh, Heryawan! (3)
	Pitnah..!! (13)


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/21839_250102789508_620404508_3048814_7450374_n.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1867" title="21839_250102789508_620404508_3048814_7450374_n" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/21839_250102789508_620404508_3048814_7450374_n.jpg" alt="" width="434" height="287" /></a></p>
<p>Terima kasih untuk sahabatku, Abah Otox, <img src='http://eepinside.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1579" title="Pemilu Sudah Menunggu (March 24, 2009)">Pemilu Sudah Menunggu</a> (0)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1653" title="Tangkuban Perahu Dicoret dari Daftar Tujuan Wisata Asing (June 8, 2009)">Tangkuban Perahu Dicoret dari Daftar Tujuan Wisata Asing</a> (2)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1409" title="Kampung Sampireun, Surga Di Tanah Parahyangan (January 1, 2009)">Kampung Sampireun, Surga Di Tanah Parahyangan</a> (1)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1507" title="Duh, Heryawan! (February 13, 2009)">Duh, Heryawan!</a> (3)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1346" title="Pitnah..!! (November 30, 2008)">Pitnah..!!</a> (13)</li>
</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1866</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kendang, The First Sundanese App for iPhone/iPod Touch</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1860</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1860#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 00:23:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Mac World]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan, Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Apple]]></category>
		<category><![CDATA[Audio video]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis Multimedia]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1860</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa Indonesia patut berbangga, terutama masyarakat Jawa Barat, karena ada salah satu seniman Jawa Barat yang telah peduli membuat aplikasi alat musik kendang (gendang) khusus buat iPhone/iPod Touch, yang dapat diunduh langsung dari iTunes Store secara gratis!! Adalah seorang Dhany Irfan yang dengan ketekunannya membuat aplikasi tersebut dan memasukannya ke iTunes Store sehingga dapat diunduh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangsa Indonesia patut berbangga, terutama masyarakat Jawa Barat, karena ada salah satu seniman Jawa Barat yang telah peduli membuat aplikasi alat musik kendang (gendang) khusus buat iPhone/iPod Touch, yang dapat diunduh langsung dari iTunes Store secara gratis!! Adalah seorang Dhany Irfan yang dengan ketekunannya membuat aplikasi tersebut dan memasukannya ke iTunes Store sehingga dapat diunduh oleh siapa pun dibelahan dunia mana pun.</p>
<p>Aplikasi ini adalah yang pertama karya urang Sunda yang masuk secara resmi dan diterima oleh Apple Inc. Semoga aplikasi ini bisa menjadi pemicu bagi kita untuk tetap mencintai seni dan budaya kita sendiri, dan sebagai promosi seni budaya kita di kancah dunia internasional. Semoga pemerintah Indonesia ada kepedulian lebih terhadap budaya dan seni bangsa ini, daripada ribut-ribut mempatenkan seni budaya karena sering diklaim oleh tetangga kita.</p>
<p><a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture.png"><img class="alignnone size-large wp-image-1861" title="screen-capture" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-1024x606.png" alt="" width="491" height="291" /></a></p>
<p><a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-1.png"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1862" title="screen-capture-1" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-1-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a> <a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-2.png"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1863" title="screen-capture-2" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-2-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a></p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=938" title="Reservasi Tiket Nonton di 21 Cineplex Bandung (June 17, 2008)">Reservasi Tiket Nonton di 21 Cineplex Bandung</a> (6)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1706" title="Ice Age 3, Dawn of The Dinosaurs, of Course in Dolby 3D (July 8, 2009)">Ice Age 3, Dawn of The Dinosaurs, of Course in Dolby 3D</a> (4)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1513" title="Aku Bertahan, Rio Febrian (February 16, 2009)">Aku Bertahan, Rio Febrian</a> (4)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=880" title="Ticketron PT. Palawi (May 3, 2008)">Ticketron PT. Palawi</a> (3)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1483" title="Nonton Film dengan Khusyu (January 21, 2009)">Nonton Film dengan Khusyu</a> (3)</li>
</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1860</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mamahku, Sosok Ibu Yang Luar Biasa</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1856</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1856#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 21:06:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Religius & Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Garut]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1856</guid>
		<description><![CDATA[Awal tahun ini, aku berlibur bersama anak-anak ke Garut, mengunjungi orang tua aku (kakek dan neneknya anak-anak). Sekalian aku ada reuni bersama teman-teman SMA Leles Garut. Setelah perceraian yang menimpa aku, betapa baru kali ini aku menyadari, Mamah adalah sosok wanita yang luar biasa.  Jam 2.30 pagi beliau sudah bangun, cuci-cuci, beres-beres dan memanaskan beberapa masakan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awal tahun ini, aku berlibur bersama anak-anak ke Garut, mengunjungi orang tua aku (kakek dan neneknya anak-anak). Sekalian aku ada reuni bersama teman-teman SMA Leles Garut. Setelah perceraian yang menimpa aku, betapa baru kali ini aku menyadari, Mamah adalah sosok wanita yang luar biasa.  Jam 2.30 pagi beliau sudah bangun, cuci-cuci, beres-beres dan memanaskan beberapa masakan. Waktu itu aku pun masih sempat makan sahur untuk puasa sunnah.</p>
<p>Mamahku adalah sosok ibu yang tiada henti melayani keluarga, termasuk aku dan anak-anakku. Anak-anak sering bilang, &#8220;Ma Nini itu terlalu baik, selalu memperhatikan kita, selalu menyediakan makanan, sampai dibawa ke atas kasur. Ma Nini masih mau menyuapi kita yang udah besar-besar ini.&#8221; Ya, Mamahku tidak pernah diam dalam kesehariannya. Ada saja yang dikerjakannya. Dan dari mulutnya selalu saja terdengar kalimat-kalimat istigfar. Dan setiap kegiatan yang berbeda, selalu dibarengi dengan ucapan doa, mau makan ada doanya, mau ngangkat barang ada doanya, buka pintu rumah ada doanya, dll.</p>
<p>Mamahku adalah sosok istri yang sangat melayani suaminya. Beruntung sekali bapakku mendapatkan istri seperti beliau. Bahkan ketika bapakku berbuat kesalahan dengan menikah lagi, Mamahku akhirnya memaafkan Bapakku dan bahkan mengakui anak tirinya dan menyayanginya seperti anak sendiri.</p>
<p>Mamahku kadang sering menangis dalam sholatnya, mendoakan kami anak-anaknya, cucu-cucunya. Aku adalah anak yang paling banyak menyusahkan dan mengecewakan Mamah. Karena aku gagal memenuhi keinginan Mamahku untuk lulus kuliah dari ITB, juga sekarang malah mengecewakannya dengan gagal mempertahankan rumah tangga. Namun, hebatnya sekarang malah Mamahku lah yang paling tegar menghadapi perceraianku. Beliaulah yang memberikan semangat dan support untuk aku tetap bertahan.</p>
<p>Salah satu temanku yang kemarin ikut berkunjung dan menginap di rumahku berkata, &#8220;Aku lihat Ibumu itu seperti tidak ada istirahatnya, sibuk melayani Bapakmu makan, kamu dan cucu-cucunya, juga ga ada henti-hentinya melakukan sesuatu, beresin ini, siapin itu, dll.&#8221;</p>
<p>Aku kalau pulang ke Garut, pasti banyak diberi barang bawaan, bisa itu berupa sekarung beras, sesisir dua sisir pisang, kekotak makananan, bahkan kalau perlu, piring sendok garpu pun dia berikan untukku. Perhatiannya untuk keluarga begitu melebihi segala-galanya. Mungkin tidak pernah terpikirkan oleh beliau ingin jalan-jalan di mall, belanja, shopping, dll. Berbeda dengan sebagian wanita perkotaan, bagi Mamahku, tidak ada namanya malas-malasan bangun siang, tidak ada namanya hari libur, setiap hari adalah ibadah melayani keluarga.</p>
<p>Tuhan, sehatkan terus mamahku. Panjangkan usianya. Amein.</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1355" title="www.ngubek.com (December 10, 2008)">www.ngubek.com</a> (7)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1495" title="Boikot Produk Israel (Yahudi), Sanggup? (February 7, 2009)">Boikot Produk Israel (Yahudi), Sanggup?</a> (7)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1782" title="Anak Belajar dari Kehidupannya (October 13, 2009)">Anak Belajar dari Kehidupannya</a> (0)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1442" title="Honda Freed, Welcome (January 15, 2009)">Honda Freed, Welcome</a> (12)</li>
	<li><a href="http://eepinside.com/?p=1260" title="Ikhlas Menerima Kesuksesan Dan Keberhasilan (September 26, 2008)">Ikhlas Menerima Kesuksesan Dan Keberhasilan</a> (5)</li>
</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1856</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Infotainment, Charlie Chaplin Tetap Berkarya dan Dihargai</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1845</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1845#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 02:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artist & Event Management]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>
		<category><![CDATA[World of Entertainment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1845</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang butuh wartawan infotainment? Apa betul artis butuh wartawan gosip dan infotainment? Halah.. itu kan cuma omongan sepihak para penggosip infotainment. Saya tidak mau menyebut mereka wartawan karena apa yang mereka kerjakan bukanlah jurnalistik, tetapi menggunjingkan orang, tak lebih dari penggosip dan paparazzi.
Justru yang terjadi adalah kebalikannya. Industri gosip infotainment tumbuh subur menjadi seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2009/12/dsr-pd177.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1853" style="margin-left: 4px; margin-right: 4px;" title="dsr-pd177" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2009/12/dsr-pd177-300x235.jpg" alt="" width="180" height="141" /></a>Siapa yang butuh wartawan infotainment? Apa betul artis butuh wartawan gosip dan infotainment? Halah.. itu kan cuma omongan sepihak para penggosip infotainment. Saya tidak mau menyebut mereka wartawan karena apa yang mereka kerjakan bukanlah jurnalistik, tetapi menggunjingkan orang, tak lebih dari penggosip dan paparazzi.</p>
<p>Justru yang terjadi adalah kebalikannya. Industri gosip infotainment tumbuh subur menjadi seperti sekarang ini adalah karena adanya para artis. Kalau tidak ada mereka, infotainment tidak ada. Untuk jadi sukses, membuahkan karya terbaik, sama sekali tidak ada korelasinya dengan infotainment. Kalau puna ada artis yang ingin ngetop dengan cara menggunakan infotainment, maka dapat dikatakan artis tersebut adalah artis kacangan yang pengen ngetop dengan cara instant, cari sensasi.</p>
<p>Industri infotainment memang menggiurkan, modal sedikit, untung banyak. Jangan bandingkan dengan pembuatan film Avatar yang menghabiskan dana Rp 2,3 triliun lebih. Duit segitu bisa dipakai buat mendirikan puluhan ribuan PH penggosip. Ya.. modalnya cukup punya camcorder ukuran kecil (handheld), semacam Sony DVCAM PD-170 yang harganya sekitar RP 30 juta, edit pake komputer, murah meriah, ga perlu punya jimmy jip, genset atau peralatan lainnya macam PH film. Cukup punya crew yang berani manjat-manjat pohon atau tembok rumah artis, ga perlu yang berpendidikan tinggi untuk bisa wawancara artis. Banyak pertanyaan-pertanyaan ga mutu, bahkan sebetulnya bukan wawancara, tapi tuduhan dan memojokan.</p>
<p>Seperti apa kata temen saya yang berkecimpung di dunia hiburan, It&#8217;s all about money. Bahkan mungkin karena uang inilah akhirnya tayangan gosip masuk ke dalam jurnalistik persatuan para wartawan. Hmm.. no comment deh.</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1845</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Gosip: &#8217;secuil&#8217; Fakta berbumbu Isapan Jempol &amp; Fitnah</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1850</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1850#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 23:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Library]]></category>
		<category><![CDATA[Science, Technology & Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1850</guid>
		<description><![CDATA[Entah sudah beberapa tahun di Indonesia, kita memperhatikan fenomena dan sepak terjang dunia pergosipan (baca: infotainment). Saya masih ingat suatu waktu ketika keluarga saya sendiri seringkali menikmati tayangan kehidupan figur publik tanah air, setiap hari. Saya sendiri sejak dahulu tidak terlalu menikmatinya, karena menurut saya buat apa mengintip urusan pribadi orang lain. Begitu banyak urusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah sudah beberapa tahun di Indonesia, kita memperhatikan fenomena dan sepak terjang dunia pergosipan (baca: infotainment). Saya masih ingat suatu waktu ketika keluarga saya sendiri seringkali menikmati tayangan kehidupan figur publik tanah air, setiap hari. Saya sendiri sejak dahulu tidak terlalu menikmatinya, karena menurut saya buat apa mengintip urusan pribadi orang lain. Begitu banyak urusan sendiri yang masih perlu perhatian. Namun karena tinggal di satu rumah, saya akhirnya memutuskan untuk latihan bertoleransi terhadap kebiasaan keluarga tersebut.</p>
<p>Saya tidak pernah menyangka bahwa observasi saya pada saat itu, ternyata berkembang menjadi suatu pengalaman, bahkan pelajaran, yang cukup mendalam. Pengalaman selama beberapa bulan terakhir ini dipicu oleh perubahan baru dalam kehidupan pribadi saya. Rasa pahit, sedih, bercampur marah tidak jarang menghampiri. Memang benar kata orang bijak, kita belajar bukan dari pengalaman yang manis, namun justru yang berat dan pahit.</p>
<p>Jarak dan Keterlibatan Mempengaruhi Strategi</p>
<p>Dahulu, mudah sekali saya menyimpulkan dalam hati ketika teman-teman figur publik menyampaikan uneg-unegnya diburu pers. Dalam benak saya berkata “ah, itu kan resikomu menjalani peran sebagai figur publik, mau tidak mau harus belajar menerimanya kan?” Hidup memang lucu, ketika kita mengamati suatu pengalaman dari jarak tertentu, dengan kadar keterlibatan tertentu, maka rasa, pengalaman dan kesimpulan yang kita petik bisa jauh berbeda begitu jarak dan keterlibatan kita mengental. Itupun terjadi pada saya, sekarang saya belajar memelihara kewarasan dengan kadar keterlibatan yang baru.</p>
<p><span id="more-1850"></span>Menurut pengamatan saya, yang juga diperkuat dengan saran berbagai pihak, untuk menghadapi buruan serigala pelaku infotainment, strategi yang paling jitu adalah “cuekin aja”, atau “no comment”, atau “diam itu emas”. Boleh dibilang sebagian besar figur publik menggunakan strategi ini sebagai “agama”-nya.</p>
<p>Entah apa alasannya, saya merasa cuek itu berbahaya. Memang kita jadi lebih terlihat dari luar seperti tenang, seperti tak terpengaruh, dan seperti kuat. Namun ketika rasa tidak nyaman tersebut terus menerus diacuhkan, dia mulai menyelinap ke bawah sadar, dan mulai menggerogoti ketenangan sejati, bahkan kesehatan fisik dan mental.</p>
<p>Diam itu emas pun, bilamana tidak ditakar dengan bijaksana, seringkali bagaikan menumpuk bom waktu. Saya sudah beberapa kali mengalami ini. Justru ketika saya mengizinkan diri untuk berbicara, tanpa diikuti harapan untuk mengubah orang lain, hanya sekadar mengkomunikasikan isi hati, di saat itulah saya berhasil memulihkan ketenangan dan kedamaian.</p>
<p>Dalam ilmu terapi, kita bisa lega ketika berkesempatan mengekspresikan diri secara jujur, apakah itu melalui menulis, berbicara, melukis, menari, bernyanyi, dll. Selama ekspresi tersebut tidak diikuti harapan hati untuk mengubah pendapat dan sikap orang lain, dia tidak akan menumpuk lebih banyak stres, justru mencairkan beban yang sudah ada.</p>
<p>Agaknya inilah satu-satunya alasan mengapa saya menulis, terkadang tentang kehidupan pribadi saya, karena bagi saya, menulis adalah terapi untuk diri sendiri. Ketika jarak dan keterlibatan narasumber dengan pelaku infotainment sudah sedemikian dekat, maka strategi cuek dan diam sudah kehilangan efektivitasnya bagi saya.</p>
<p>Berita infotainment: lebih banyak fakta atau fiksi?</p>
<p>Kalau dari kata ‘gosip’, sebenarnya kita semua tahu bahwa gosip tidaklah selalu faktual, namun saya sering mendapati bahwa tanpa sadar, saat kita duduk depan televisi yang menyiarkan acara gosip, atau membaca tabloid gosip, sulit sekali untuk tidak berpendapat tentang liputan tersebut, atau bisa menikmatinya dari posisi yang netral. Bahkan tidak mudah juga untuk menerimanya sebagai gosip (baca: belum tentu fakta).</p>
<p>Saya ingin berbagi pengalaman pribadi tentang proses peliputan berita gosip yang saya alami. Tentunya belum tentu setiap figur publik mengalami persis sama dengan yang saya alami. Sebelum pengalaman ini, saya pun sudah cukup sering menghadapi media cetak maupun televisi (yang bukan media gosip) untuk keperluan liputan seputar kesehatan holistik.</p>
<p>Dari pengalaman media umum (bukan media gosip), tidak jarang ada pemberitaan yang melenceng dari wawancara. Ini cukup saya bisa maklumi karena terkadang pewawancara kurang jeli atau kurang mengerti, sehingga ketika dia menuangkan tulisannya, terpaksa memang menggunakan interpretasi subjektifnya sendiri.</p>
<p>Namun dalam pengalaman dengan media gosip, sungguh luar biasa derajat pemutarbalikan fakta, dan berikut ini saya ingin berbagi beberapa strategi peliputan gosip yang sudah pernah terjadi. Ini hanya sebagian contoh yang kami alami, saya hanya ingin memberikan gambaran nyata proses peliputannya saja:</p>
<p>1. Pemalsuan suara narasumber</p>
<p>Dalam suatu kesempatan, asisten Dewi Lestari ditelepon oleh salah satu infotainment yang meminta kesempatan wawancara, sekaligus klarifikasi berita pernikahan kami. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, ternyata percakapan telepon tersebut direkam oleh pihak infotainment. Ini belum apa-apa, karena begitu keesokan harinya ketika rekaman percakapan tersebut ditayangkan, di akhir komentar sang asisten tersebut, ada lanjutan suara wanita lain yang mirip dengannya, memberikan komentar dan pernyataan tambahan yang tidak pernah disebutkan oleh sang asisten, dan dibuat seolah-olah menjadi satu komentar utuh dari pihak yang sama.</p>
<p>2. Pelencengan drama melalui narator</p>
<p>Pernahkah Anda memperhatikan suara narator dalam liputan infotainment, dengan intonasi dramatis? Itu juga salah satu alat pembentukan opini dalam liputan infotainment. Ketika sudah diselipkan di antara komentar langsung dari narasumber, maka pemirsa sulit membedakan lagi yang mana fakta, dan yang mana fiksi.</p>
<p>3. Fitnah yang sengaja, maupun (barangkali) tidak disengaja</p>
<p>Baru-baru ini, ada sebuah insiden antara saya dengan peliput gambar infotainment. Saat shooting acara televisi di panggung, saya berbicara baik-baik untuk meminta agar pengambilan gambar tidak dilakukan dengan jarak sangat dekat. Awalnya, kedua peliput gambar dari Indigo Production tersebut mau mengerti, dan kemudian meliput dari jarak yang lebih renggang, sehingga kami lebih nyaman dalam melaksanakan pekerjaan kami. Ini sangat saya hargai.</p>
<p>Namun ketika saya dan Dewi berjalan dari panggung menuju ruang rias, dan kemudian menuju mobil, kamera tersebut terus mengikuti kami dengan jarak sangat dekat, sekitar 30-50 cm dari tubuh kami, dan saya hanya bicara berulang kali agar peliputan gambar sudah cukup. Si peliput gambar hanya sekadar mengiyakan di mulut, tanpa mematikan kamera atau mengambil jarak yang lebih santun. Akhirnya saya memegang lensa kamera dengan permintaan yang sama, sambil memasuki mobil. Tiba-tiba si peliput gambar justru marah, memaki-maki kasar, bahkan memukul mobil saya dengan peralatannya.</p>
<p>Begitu keluar di liputan gosip online &#8216;artistainment.wordpress.com&#8217;, justru saya yang dinyatakan marah tanpa sebab yang jelas, dan bahkan dicurigai bahwa sayalah yang menghantamkan peralatan kamera ke mobil saya sendiri. Ini tidak mungkin terjadi karena waktu saya mendengar bunyi peralatan bertumbukan dengan mobil, kami semua sudah berada dalam mobil dengan pintu dan jendela tertutup. Saya punya minimal 3 saksi langsung dalam insiden ini. Entah karena dendam atau alasan apa, berita yang keluar justru sangat jauh dari kronologisnya.</p>
<p>4. Wawancara imajiner</p>
<p>Dalam tabloid C&amp;R, pernah sekali Dewi Lestari muncul dalam sebuah artikel yang dikemas dalam bentuk wawancara langsung tentang kedekatan Dewi dengan saya. Ini sudah dibahas sebelumnya dalam posting Dewi di dee-idea.blogspot.com. Wawancara tersebut sebenarnya tidak pernah terjadi. Tidak pernah ada kontak bicara, email atau telpon dengan sang wartawan. Bahkan beberapa waktu kemudian, kami mendapat input dari salah seorang mantan peliput infotainment, bahwa memang ada teknik ‘wawancara imajiner’, yang dihalalkan (baca: dianggap lazim dan boleh) dalam dunia peliputan gosip, karena teknik ini meningkatkan nilai berita yang disajikan.</p>
<p>5. Bongkar pasang komentar narasumber dan mengubah judul liputannya.</p>
<p>Dalam suatu kesempatan, salah seorang anggota keluarga Marcell diwawancara infotainment dengan pertanyaan apakah dirinya kecewa dengan perceraian Dewi-Marcell, dan dengan tenang dia menjawab di depan kamera bahwa dalam setiap perpisahan tentu ada kekecewaan, namun agaknya kedua pihak sudah memutuskan bahwa itulah yang terbaik, jadi pihak keluarga tentunya juga tidak menghalangi bilamana itulah jalan yang membuat kedua pihak bahagia.</p>
<p>Tetapi dalam liputan infotainment, keluarlah teks “Keluarga Marcell kecewa dengan keputusan Dewi”, didukung narator yang mengatakan bahwa pihak keluarga Marcell kecewa karena Dewi memutuskan untuk menikah dengan saya, bukannya kecewa karena keputusan Marcell dan Dewi untuk berpisah, sebagaimana liputan wawancara yang sebenarnya.</p>
<p>Jadi dalam hasil bongkar pasang tersebut, muncullah kesan adanya kekecewaan keluarga Marcell atas pernikahan kami, bukan atas perceraian sebelumnya. Bongkar pasang komentar dan narasi seperti ini, mungkin juga lazim dan lumrah.</p>
<p>6. Salah menangkap fakta</p>
<p>Kalau kategori terakhir ini, terus terang lebih banyak mengundang gelak tawa dan senyum bagi kami yang diliput. Meskipun saya akui, mungkin saja ini lebih banyak tidak disengaja. Di tengah keterbatasan informasi, keluarlah berbagai liputan maha meleset seperti:</p>
<p>“Marcell dan Dewi tukar pasangan, karena Reza Gunawan dan Rima Adams dulu adalah pasangan suami istri.”</p>
<p>Fakta: Reza dan Rima baru kenal beberapa bulan yang lalu, ketika Marcell memperkenalkan Rima sebagai kekasihnya. Rima memang sudah pernah menikah, dan kemudian bercerai dengan mantan suaminya yang tinggal di luar negeri. Tetapi mantan suami tersebut bukanlah Reza.</p>
<p>“Ketika Reza sudah mengakui hubungan cintanya dengan Dewi Lestari, justru Dewi MENYANGKAL dengan pernyataan blognya ‘There’s nothing unspecial between me and Reza’ yang artinya tidak ada yang istimewa dengan hubungan saya dan Reza”</p>
<p>Fakta: salah terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. “Nothing unspecial” artinya tidak ada yang tidak istimewa. Ini cukup membuat kami terpingkal-pingkal karena liputannya menggunakan narator dramatis yang membacakan skrip salah terjemahan tersebut. Ini membuat Dewi dituduh menyangkal, bahkan dicap munafik. Bagi kami, rasanya seperti ada lomba adu bodoh antar infotainment, dan mereka saling mengungguli satu sama lain, sehingga kami sulit menentukan “siapa yang jadi juaranyaaa…”</p>
<p>“Balada wanita paruh baya berusia hampir 50 tahun”</p>
<p>Oh, ada satu lagi. Dulu sekali, Rima sempat diliput sebagai wanita paruh baya yang ada di dalam mobil Marcell. Dengan bermodal niat baik, dalam blognya, Dewi berusaha menjelaskan bahwa Dewi kenal langsung dengan Rima yang begitu baik dan ramah, dan juga Rima itu “nowhere near half century old”. Begitu keluar di salah satu media online, tulisannya menjadi “Kabarnya Rima ini sudah berusia hampir 50 tahun / setengah abad”. Saya langsung menyerah dan angkat tangan.</p>
<p>“Nama anak kami sering sekali salah liput”</p>
<p>Entah mengapa di berbagai media keluar nama “Keenan Sidharta, 3 tahun”, padahal nama aslinya “Keenan Avalokita Kirana” dan dia sudah berusia 4 tahun lebih.</p>
<p>“Seringnya komentar yang tertukar dan/atau ditambah”</p>
<p>Sewaktu saya dan Dewi diwawancari di Blitz Megaplex, dan kami membaca liputan tertulisnya di beberapa media, banyak sekali komentar yang tertukar. Pernyataan yang saya buat, justru diliput seolah Dewi yang berbicara dan juga sebaliknya. Bukankah kalau memang wawancara tersebut direkam gambar dan/atau suaranya, peliput bisa membedakan siapakah yang sedang membuat pernyataan? Bahkan banyak juga pernyataan yang tidak pernah kami sampaikan, tetapi diliput seolah kami mengatakan hal-hal yang sebenarnya isapan jempol sang peliput.</p>
<p>Pernyataan Terpenting yang Perlu Perenungan</p>
<p>Saya belajar untuk realistis. Di tengah praktek pelaku liputan gosip yang seringkali menjengkelkan karena melanggar etika dan privasi, saya tidak menuntut atau meminta mereka berhenti, atau menjadi lebih etis dan cerdas. Itu cukup menjadi doa dalam hati saya saja.</p>
<p>Fokus yang terpenting saat ini adalah bukan pada para peliput gosip, namun pada saya dan Anda sebagai publik. Ketika kita terekspos dengan informasi gosip terkini setiap hari, tentunya merupakan pilihan bebas kita masing-masing untuk mengonsumsinya (baca: lihat, baca dan dengar) atau tidak.</p>
<p>Namun pertanyaan maha pentingnya adalah, setelah kita tahu bagaimana proses peliputan di balik produk berita-jadi-siap-saji tersebut, apakah kita masih bisa berasumsi bahwa apa yang kita tangkap dari media gosip, merupakan fakta, atau minimal lebih banyak faktanya?</p>
<p>Dan lebih lanjut lagi, kalau kita bisa melihat bahwa kadar fakta dalam liputan gosip seringkali sangatlah sedikit, masihkah kita bisa mempertahankan bahkan menganggap benar pendapat, reaksi, dukungan, cibiran, pujian, hinaan, dan sederet penilaian kita yang didasari oleh berita-minim-fakta tersebut?</p>
<p>Hanya diri kita yang bisa menjawabnya dengan hati yang jujur.</p>
<p>Yang saya tahu pasti, sebagai pihak yang terlibat langsung dengan jarak dekat, sekarang saya menyadari bahwa kesehatan mental saya sendiri, berbanding terbalik dengan konsumsi infotainment yang saya terima. Bahkan saya telah mencabut ulang semua penilaian dan pendapat saya terhadap setiap figur publik yang diliput infotainment, karena sejujurnya saya tidak tahu apa yang ‘sesungguhnya’ terjadi secara faktual dalam hidup dan pilihan mereka.</p>
<p>Bagi saya, mengkonsumsi informasi gosip dengan terus membacanya, menyaksikannya, bahkan menceritakannya pada orang lain, secara tidak langsung menjadikan saya berpartisipasi aktif sebagai pelaku gosip, yang memang terkadang lebih enak daripada membicarakan kelemahan dan permasalahan diri dan keluarga kita sendiri.</p>
<p>Bagi saya, biarlah ukuran baik-buruk dan benar-salah dalam kehidupan mereka tidak diukur oleh kesadaran manusiawi yang tidak lepas dari keterbatasan. Bagi saya, itu urusan pribadi antara mereka dan Sang Maha.</p>
<p>Sumber: <a href="http://rezagunawan.blogspot.com/2008/12/media-gosip-secuil-fakta-berbumbu.html">Media Gosip: &#8217;secuil&#8217; Fakta berbumbu Isapan Jempol &#038; Fitnah</a>, oleh Reza Gunawan</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1850</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luna Bukan Kopaja</title>
		<link>http://eepinside.com/?p=1846</link>
		<comments>http://eepinside.com/?p=1846#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 22:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Library]]></category>
		<category><![CDATA[Science, Technology & Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eepinside.com/?p=1846</guid>
		<description><![CDATA[Peluru ditembakkan ke udara. Asbak melayang. Dan sekarang, sebaris sumpah serapah di Twitter.
Relasi media hiburan dengan komoditas tunggalnya—yakni para penghibur, atau yang lebih sering disebut “artis”—adalah hubungan yang berwarna-warni. Kadang-kadang keduanya menempel manis bagai semut yang memeluk gula, tapi kadang-kadang keduanya saling sengit bagai kucing dan anjing.
Dan kini, dalam mangkok besar industri hiburan, kita pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peluru ditembakkan ke udara. Asbak melayang. Dan sekarang, sebaris sumpah serapah di Twitter.</p>
<p>Relasi media hiburan dengan komoditas tunggalnya—yakni para penghibur, atau yang lebih sering disebut “artis”—adalah hubungan yang berwarna-warni. Kadang-kadang keduanya menempel manis bagai semut yang memeluk gula, tapi kadang-kadang keduanya saling sengit bagai kucing dan anjing.</p>
<p>Dan kini, dalam mangkok besar industri hiburan, kita pun punya apa yang disebut: infotainment—hadir dalam bentuk program teve yang laku ditonton dan diproduksi dengan biaya tak besar. Berbeda dengan sinetron yang menuntut puluhan kru serta puluhan pemain dengan honor yang tak kecil, infotainment melenggang ringan dengan satu-dua kamera, dua-tiga kru, dan segenggam mikrofon yang ditodongkan ke para artis yang tak dibayar* untuk membuka ruang privat kehidupan mereka. Simbiosa? Sudah pasti. Saling membutuhkan? Tidak setiap saat. Saling menguntungkan? Belum tentu.</p>
<p>Berikut beberapa anggapan umum, yang saking mapannya bersarang di benak masyarakat, sudah jarang kita pertanyakan atau cek kebenarannya, antara lain:</p>
<p><strong>1. “Media hiburan dan artis saling membutuhkan.”</strong></p>
<p>Bagi saya, kalimat itu terdengar manis dan bijak tapi juga menjebak dan menjerat. Menjebak hingga artis dipaksa untuk melonggarkan bahkan merobohkan garis privasi di luar keinginannya, dan menjerat masyarakat untuk terus mewajarkan tindakan-tindakan intimidatif infotainment dengan alasan “itu kan risiko jadi orang terkenal.”</p>
<p>Agar karya saya menggaung di masyarakat luas, saya membutuhkan media sebagai amplifier-nya, termasuk media hiburan (meski ada juga karya yang jadi besar dan laris bahkan sebelum media sempat menyentuhnya). Namun tidak semua jenis pemberitaan mendukung karya ataupun pamor saya. Bahkan ada pemberitaan yang mengganggu hidup saya. Bukan “saling membutuhkan” namanya jika saya menolak diliput dan malah terus dikuntit, rumah saya ditongkrongi dan dimata-matai. Bukan “saling membutuhkan” namanya jika kalimat saya diputar-balikkan untuk memenuhi opini subjektif tertentu melalui gambar dan narasi yang lantas dibagi ke jutaan pemirsa. Dalam situasi seperti itu, saya menolak keras generalisasi bahwa artis selalu membutuhkan media hiburan.</p>
<p>Media dan seorang artis hanya layak disebut saling membutuhkan jika memang keduanya sedang merasa ada kebutuhan, yang artinya: situasional. Tidak terus-menerus dan berubah-ubah.</p>
<p><span id="more-1846"></span><strong>2. “Hubungan antara artis dan infotainment bersifat mutualisme.”</strong></p>
<p>Mengatakan, atau mengharapkan, bahwa hubungan antara artis dan infotainment selalu bersimbiosa mutualisme, menurut saya, adalah pernyataan yang buta. Simbiosa yang terjadi di lapangan bisa beragam:</p>
<p>• <strong>Mutualisme:</strong> Saat si artis mengizinkan dengan sukarela untuk si infotainment masuk ke dalam ruang privatnya, dari mulai meliput bisnis sampingan, meliput ulang tahun anak, bahkan untuk membantu posisi tawarnya dalam industri. Infotainment pun kadang sengaja dilibatkan ketika si artis hendak memenangkan sebuah konflik. Dalam relasi ini, kedua pihak sama-sama diuntungkan.</p>
<p>• <strong>Komensalisme:</strong> Dengan izin atau tanpa izin, disengaja atau tidak, infotainment mewawancarai artis dan diladeni secara netral-netral saja. Misalnya, untuk memberi komentar ringan, atau meminta klarifikasi atas berita-berita remeh (baca: bukan skandal). Dalam pengamatan saya, relasi macam inilah yang paling banyak terjadi; si artis bisa berjalan lalu sambil berkata “Ah. Biasalah, infotainment,” dan si reporter bisa permisi pergi dengan muka lurus tanpa harus mengejar dan mencecar. Dalam jenis relasi ini, artis tidak merasa diuntungkan, tapi juga tidak merasa dirugikan.</p>
<p>• <strong>Parasitisme:</strong> Ketika si artis tidak memberikan persetujuan, kerelaan, atau keinginan untuk meladeni infotainment, tapi terus didesak, dipaksa, bahkan diintimidasi. Dan kemudian berita tetap ditayangkan dengan memakai perspektif satu pihak saja. Dalam pengemasannya, beberapa infotainment bahkan sampai melakukan teknik wawancara imajiner, pemalsuan suara, memutar balik kejadian sebenarnya, dan cara-cara lain yang sudah menjurus ke arah fitnah.** Dalam relasi ini, jelas yang diuntungkan hanyalah pihak infotainment, sementara pihak artis dirugikan, bahkan dicurangi.</p>
<p><strong>3. “Kalau beritanya aib pasti artisnya menghindar, kalau berita baik infotainment-nya dibaik-baikin.”</strong></p>
<p>Lagi-lagi, buat saya itu adalah opini yang malas dan tak jeli. Tak sedikit area yang disebut “baik-baik” oleh banyak orang, tapi bagi beberapa artis tertentu merupakan ruang privat yang tidak ingin dibagi ke infotainment, seperti kelahiran anak, acara pernikahan, dst. Dan banyak juga konflik/isu berbau skandal yang secara sengaja justru melibatkan infotainment atas undangan/persetujuan/kerelaan artisnya. Jadi, fakta di lapangan lagi-lagi tidak mendukung opini umum tersebut. Setiap artis punya preferensi dan garis batasnya masing-masing.</p>
<p><strong>4. “Seorang figur publik wajib membuka dirinya terhadap publik karena ia sudah jadi milik publik.”</strong></p>
<p>Sewaktu kecil, saya tidak pernah bercita-cita jadi figur publik. Yang saya ingat, saya ingin jadi penulis dan musisi profesional. Itu saja. Saat saya berkarya, saya mempertanggungjawabkannya dengan cara-cara yang sederhana: menjamin bahwa karya saya asli dan mencintainya sepenuh hati.</p>
<p>Namun karya dan citra melangkah seiring sejalan ketika sudah masuk ke dalam industri. Di sana, karya menjadi besar, citra pun ikut membesar, dan saya yang manusia biasa kadang-kadang tenggelam oleh keduanya. “Figur publik” akhirnya menjadi efek samping yang mengiringi profesi artis, walaupun berkarya dan terkenal sebetulnya adalah dua hal yang berbeda.</p>
<p>Sialnya, pengertian “figur publik” selalu ditempelkan dengan konotasi “milik publik”. Kita amat sering terpeleset dengan menganggap keduanya identik, padahal secara esensi keduanya berbeda. Dalil itulah yang kemudian digunakan infotainment untuk menuntut artis buka mulut. Sering sekali mereka mengatasnamakan “masyarakat” dengan mengatakan “Masyarakat berhak untuk tahu!”</p>
<p>Bagi saya, yang menjadi milik publik adalah karya saya. Masyarakat bisa membeli buku saya, CD album saya, mengundang saya untuk diskusi buku dalam kapasitas saya sebagai penulis, atau mengundang saya bernyanyi dalam kapasitas saya sebagai penyanyi. Namun saya punya hak penuh atas kehidupan pribadi saya. Hidup saya bukan milik publik. Adalah hak saya sepenuhnya untuk menentukan seberapa banyak potongan kehidupan pribadi yang ingin saya bagi dan mana saja yang ingin saya simpan.</p>
<p>Artis adalah manusia yang berkarya. Bukan telepon umum.</p>
<p><strong>5. “Seorang artis harus selalu bertutur laku baik dan sopan.”</strong></p>
<p>Ini barangkali anggapan umum yang paling naif tentang artis. Pertama-tama, bukan hanya artis, seorang tukang becak pun dituntut untuk bertutur laku baik dan sopan pada penumpangnya. Ketika sudah hidup bermasyarakat, sikap baik dan sopan melancarkan interaksi kita dengan satu sama lain. Namun kita juga manusia yang punya dua sisi. Kita pun bisa marah dan kehilangan kendali. Lantas apa yang membedakan Luna Maya dengan Mang Jeje—tukang becak langganan saya di Bandung?</p>
<p>Sebuah pepatah bijak berkata: “Semakin tinggi pohon, semakin keras angin menerpa.” Saya setuju. Tapi tidak berarti bahwa seseorang yang dianggap bintang lantas di-dehumanisasi-kan. Menuntut seorang bintang untuk selalu sempurna, bukan saja berarti penyangkalan atas kemanusiawian, tapi juga mustahil bisa dipenuhi. Jadi, jika kesempurnaan adalah kemustahilan, mengapa sebagian dari kita begitu sulit berempati?</p>
<p>Seorang Luna Maya, yang sudah minta pengertian secara baik-baik, tapi malah terus didesak hingga kamera membentur kepala anak yang sedang ia gendong, lantas meledakkan emosinya di Twitter—sebegitu irasionalkah tindakannya itu? Atau justru manusiawi? Apa yang kira-kira akan kita lakukan jika kita menjadi Luna? Tetap bermanis-manis hanya karena status artisnya, hanya karena konon ia “milik publik”? Sekali lagi, seingat saya, Luna adalah model dan presenter. Bukan Kopaja. Apa hak kita untuk mengklaim agar Luna bertutur laku sebagaimana keinginan kita? Kita bisa menyimpan fotonya, menyimpan RBT lagu Luna di telepon genggam kita, tapi kita tidak bisa mengontrol manusianya seperti kita mengoperasikan AC dan remote-nya.</p>
<p><strong>6. “Tanpa media, artis tidak akan jadi siapa-siapa.”</strong></p>
<p>Ini barangkali sihir terkuat yang merasuk di kalangan artis. Kita tahu, betapa besar peran media dalam perkembangan karier seorang artis—entah itu karier musik, sinetron, film, model, dsb. Tapi, mari kita lihat skala yang sesungguhnya: Media bukan cuma satu. Media hiburan merupakan salah satu bagian, bukan keseluruhan. Infotainment juga cuma sebagian dari media hiburan, bukan keseluruhan.</p>
<p>Infotainment memang powerful. Terbukti ada orang-orang yang disulap dari bukan siapa-siapa dan tahu-tahu menjadi artis papan atas setelah diekspos habis-habisan di infotainment. Dan ada juga artis yang hidupnya ditelanjangi habis-habisan sampai harus menghilang bertahun-tahun dari panggung hiburan.</p>
<p>Tapi, jangan kita balik logikanya. Saya tidak melihat infotainment dan artis seperti logika ayam dan telur. Apalagi kalau infotainment disebut sebagai “induk” dari eksistensi seorang artis. Infotainment adalah fenomena yang muncul tahun ’90-an, sementara saya tumbuh besar menyaksikan artis-artis yang mampu eksis berdasarkan bakat dan karyanya jauh sebelum ada infotainment. Dan jangan kita lupa, tanpa artis, infotainment hanya corong kosong tanpa isi. Corong itu boleh nyaring. Tapi kalau tidak ada yang disuarakan, ia pun senyap dan hampa.</p>
<p><strong>Bangun Dari Ilusi</strong></p>
<p>Sayangnya, selama ini dari kalangan artis sendiri lebih banyak memilih diam atau bersungut-sungut di belakang. Padahal pihak artislah yang paling banyak dirugikan. Entah karena terlena, merasa bakal sia-sia saja, atau kita masih dihantui image infotainment yang terasa begitu besar dan berkuasa hingga kita percaya buta bahwa jatuh-bangun karier kita ditentukan mereka. Dan sama seperti semua manusia, tidak ada artis yang ingin kehilangan rezekinya atau dihukum di layar kaca dengan pemberitaan negatif.</p>
<p>Jika ada pepatah bijak yang bisa berguna, maka inilah dia: “Rezeki diatur oleh Tuhan. Bukan oleh infotainment.”</p>
<p>Saya tidak mengajak siapa pun untuk memusuhi infotainment. Permusuhan bukanlah tujuan saya menulis sebegini panjang lebar. Tapi kiranya para artis bisa melihat relasinya dengan media hiburan secara proporsional.</p>
<p>Mari kita bangun dari ilusi bahwa cuma ada satu tangan besar yang menentukan mati-hidupnya karier kita. Keberhasilan seorang artis ditentukan oleh banyak faktor, frekuensi pemunculannya di infotainment hanyalah satu faktor, bukan segalanya.</p>
<p>Berikut beberapa hal sederhana yang sekiranya bisa seorang artis lakukan untuk perimbangan berita:</p>
<p><strong>1. Ungkapkanlah sisi cerita kita. </strong>Menulis di blog/situs pribadi, atau lakukan wawancara dengan media cetak yang bersahabat untuk menulis sisi cerita kita. Jangan kecil hati jika cerita kita kalah jumlah pembacanya dengan pemirsa teve yang jutaan. Adanya sebuah sumber cerita langsung dari yang bersangkutan jauh lebih berarti ketimbang bungkam sama sekali.</p>
<p><strong>2. Jika memungkinkan, bawalah alat perekam/kamera saat infotainment meliput kita.</strong> Semua artis yang pernah berurusan dengan infotainment tentunya tahu betapa banyak kejadian asli yang terdiskon ketika muncul di layar teve, belum lagi narasi yang merajut potongan adegan agar muat di kerangka opini tertentu saja. Lalu kemanakah rekaman dari sisi kita itu kita tayangkan? YouTube. Promosinya? Believe me, with a tweet or two, we can have thousands of viewers before we know it. Maybe even more if it got spread. Kalau tidak mau repot sampai menayangkan pun tidak masalah, dengan membawa perekam tandingan saja sudah cukup mengubah percaturan psikologis saat kita sedang diliput. Catatan: Reza pernah merekam balik juru kamera infotainment yang menguntitnya. Dan ketika dia bertanya: “Buat apa Mas Reza pakai kamera segala?” Reza menjawab, “Ya sama kayak kamu, ngambil gambar tanpa izin.” Hasilnya? Yang bersangkutan pun akhirnya gerah sendiri dan kabur ke toilet pria. And yes. Reza followed him all the way there.</p>
<p><strong>3. Tegas berkata ‘tidak’ dan berikan batas dari awal</strong>. Tidak jarang, artis diundang ke satu acara atau dikontrak oleh pihak yang memang secara resmi mengundang infotainment. Kita bisa mensyaratkan sejak awal pada pihak penyelenggara bahwa wawancara hanya sebatas materi yang mendukung acara dan tidak melenceng ke hal-hal pribadi, dan untuk itu kita bisa meminta panitia untuk ikut menggawangi jalannya wawancara. Tegas bilang ‘tidak’ atau diam ketika pertanyaan mulai melenceng. And when things start to get out of hand, just do what every Miss Universe is known best at: smile and wave.</p>
<p><strong>Penderitaan Sebagai Candu</strong></p>
<p>Di luar dari itu semua, sebagian besar masyarakat pun punya problem adiksinya sendiri. Infotainment telah memanjakan tendensi manusiawi kita untuk merasakan kepuasan saat melihat ada orang lain yang tidak lebih baik, bahkan lebih menderita, ketimbang kita.Schadenfreude. Apalagi kalau orang-orang itu adalah kaum yang kita anggap super, yang punya segalanya. Kita semua menyimpan tendensi itu, sadar atau tak sadar, sama halnya kita punya potensi untuk membunuh dan merusak. Namun kita punya pilihan untuk tidak melakukannya, tidak memeliharanya.</p>
<p>Kita bisa menjadi penonton yang lebih mawas dan melek. Tontonan infotainment seharusnya ditujukan untuk menghibur dan memberi informasi. Ketika sudah menjadi ajang penghakiman, berarti ada yang tidak beres. Ada yang melenceng.</p>
<p>Sebagai penonton yang memilih tidak suka, saya sarankan untuk bersuara dengan konstruktif, entah lewat jaringan sosial di internet atau apa pun sesuai kapasitas kita. Dengan menyuarakan sikap, mudah-mudahan pihak produser infotainment maupun teve sudi instrospeksi dan membuat konten programnya lebih bermutu dan berimbang.</p>
<p>Cara paling sederhana? Matikan teve. Atau ganti saluran.</p>
<p><strong>Berempati Tidak Perlu Polisi</strong></p>
<p>It takes one to know one. Sampai kita mengalami apa rasanya dicecar dan dikepung kamera, kita tidak bisa sepenuhnya mengerti apa yang membuat Parto menembakkan pistol ke udara, apa yang membuat Sarah Azhari melempar asbak, dan apa yang membuat Luna Maya mengumpat di Twitter-nya. Di lain sisi, sampai kita tahu apa rasanya berpeluh dan bersusah payah mengejar sekalimat-dua kalimat demi mengejar setoran berita, kita pun tidak bisa sepenuhnya memahami mengapa mereka, para wartawan infotainment yang awalnya bisa sangat manis dan sopan, tahu-tahu bisa berubah seperti preman tak tahu aturan.</p>
<p>Saya tidak berpendapat bahwa yang ditulis Luna di Twitter-nya itu manis dan terpuji. Ia memang mengumpat dan memaki. Tapi dengan mengetahui sebab yang melatari aksi Luna, segalanya sangatlah sederhana. Kita manusia. Kita menangis. Kita tertawa. Kita marah. Kita khilaf. Sesuatu yang bisa diselesaikan dengan satu musyawarah di kedai kopi. Tanpa perlu mengadu ke polisi. Tanpa perlu UU ITE. Jadi, untuk apa membunuh nyamuk dengan bom atom?</p>
<p><strong>Menghindari Bumerang Dengan Nurani</strong></p>
<p>Mengadukan Luna hingga ke polisi, dan di sisi lain TIDAK memberikan berita berimbang tentang MENGAPA Luna sampai bersumpah serapah di Twitter, dan bukannya MINTA MAAF karena nyaris membuat seorang anak cedera, menurut saya adalah langkah yang tidak strategis bahkan berbahaya. Infotainment jelas bukan figur bercitrainnocent yang mengundang simpati. Saat ini, infotainment tengah diuji. Artis pun sedang diuji. Dan masyarakat menyoroti. Pembelaan terhadap Luna terus mengalir.</p>
<p>Ironisnya, kamera pun terus berputar. Semakin panjang dan heboh masalah ini, kembali infotainment diuntungkan. Sensasi adalah uang. Jadi, jika keuntungan finansial sudah di kantong, tidakkah kehormatan juga layak dikantongi? Andai saja pihak infotainment sudi menelan ludahnya lalu melucuti label-label “pers”, “artis”, dst, kembali menjadi individu, kembali menjadi manusia biasa, ia justru bisa memperoleh respek. Namun jalur yang dipilihnya kini justru berpotensi menjadi bumerang. Pers hiburan memang besar. Tapi masyarakat jauh lebih besar.</p>
<p>Kasus ini bukan saja memancing reaksi dari masyarakat yang selama ini jengah bahkan muak dengan kualitas tayangan infotainment, tapi juga mengundang potensi ‘pengadilan rakyat’ yang berbasis nurani umum, seperti halnya kasus Prita vs RS. Omni. Tapi jika tujuan akhir pihak infotainment yang dinaungi PWI tersebut ternyata hanyalah sensasi (baca: rating)? Maka biarlah kecerdasan dan nurani rakyat yang akhirnya menilai sendiri.</p>
<p>Suara saya ini mungkin tidak punya arti. Setelah kasus ini berlalu, mungkin tetap tidak terjadi perubahan apa-apa dalam praktek infotainment, pada kegandrungan masyarakat luas akan kehidupan pribadi para artis, maupun pada sikap kebanyakan artis yang masih cenderung permisif dan bermain aman ketika berhadapan dengan kuasa kamera infotainment. Saya menghargai pilihan setiap orang. Bersimbiosa mutualisme dengan infotainment bukanlah hal yang salah. Bekerja bagi industri infotainment pun bukan hal yang salah—baik itu sebagai kru maupun presenter. Menjadi artis yang memilih untuk menutup diri dari infotainment pun bukan hal yang salah. Ini memang bukan masalah benar atau salah, melainkan preferensi. Dan ketika kita menghargai pilihan masing-masing, batas privasi masing-masing, niscaya tidak perlu lagi ada peluru menembak ke udara atau caci maki di jagat maya.</p>
<p>Hukum, dan praktek hukum di lapangan, tidak selalu berbasiskan nurani, melainkan permainan kelihaian di dalam kotak sistem. Jadi bukannya tidak mungkin pihak infotainment/PWI akan menjadi pemenang di jalur hukum. Jujur, saya tidak terlalu menganggapnya penting. Nurani tidak bisa dikelabui. Dan, sekali nurani terusik, masyarakat—Anda dan saya—tak akan pernah lupa.</p>
<p><span style="font-size: x-small;">* Ada kalanya artis dibayar. Berita-berita ringan lucu yang tahu-tahu memunculkan kemasan odol, obat penurun panas, suplemen, dsb, itu? Berita demikian namanya “insertion”. Dan artis yang berpartisipasi mendapat imbalan dari produsen yang bekerja sama dengan infotainment.</span></p>
<p><span style="font-size: x-small;">** Semua contoh metode memutar balik fakta tersebut sudah pernah saya alami langsung. Detailnya bisa dibaca di </span><a href="http://dee-idea.blogspot.com/2008/08/10-most-hillarious-humorous-and-hideous.html"><span style="font-size: x-small;">sini</span></a><span style="font-size: x-small;"> dan di </span><a href="http://rezagunawan.blogspot.com/2008/12/media-gosip-secuil-fakta-berbumbu.html"><span style="font-size: x-small;">sono</span></a><span style="font-size: x-small;">.</span></p>
<p>Tulisan ini dicopy paste dari blog Dewi Lestari: <a href="http://dee-idea.blogspot.com/2009/12/luna-bukan-kopaja.html">Luna Bukan Kopaja</a>.</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eepinside.com/?feed=rss2&amp;p=1846</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
