Keluarga Cemara
By Eep | July 1, 2009
Ada yang masih inget serial televisi “Keluarga Cemara”? Saya sangat merindukan serial televisi seperti itu lagi, daripada Cinta Fitri, Ben 7… dan sinetron ga guna lainnya. Jauuuh deh nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Kapan ya ada televisi yang hanya menyiarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat ini? SilokaTV kah? Duh baru mimpi, kagak ada modalnye.
Ini adalah syair dari soundtrack Keluarga Cemara:
Harta yang paling berharga, adalah keluarga
Istana yang paling indah, adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga
Mutiara tiada tara, adalah keluargaSelamat pagi, emak …. Selamat pagi, abah
Mentari hari ini berseri indahTerima kasih, emak … Terima kasih, abah
Restu sakti perkasa
Bagi kami putra-putri
Yang siap berbakti
Topics: Family, World of Children | No Comments »
Berdamai dengan Diri Sendiri
By Eep | June 23, 2009
Ada banyak orang berkata, musuh satu terlalu banyak dibandingkan dengan seribu teman. Ya, dulu sewaktu kecil, saya sempat punya musuh, repotnya minta ampun. Kalau mau pergi, selalu menghindari jalan yang ada rumahnya musuh saya itu. Yang tadinya harusnya singkat jalannya, jadi memutar. Kalau ada kumpul-kumpul, jadi sungkan. Pokoknya jadi repot. Oleh karena itu, punya musuh sangat repot deh. Tidak punya musuh, banyak teman, membuat hidup ini terasa lebih ringan dan tanpa beban.
Namun, tak banyak orang menyadari bahwa ada satu musuh besar yang kadang tidak pernah kita sadari. Yaitu diri sendiri. Ketika akan melangkah membuka bisnis, tiba-tiba diri kita sendiri berkata, “Wah, jangan-jangan nanti usahanya bangkrut.” “Jangan-jangan nanti kena tipu orang.” Ketika kita mendapat tugas dengan satu target, tiba-tiba diri kita sendiri berkata. “Wah, nyampe ga ya target bulan ini? Sanggup ngga ya aku?” Atau ketika kita menjual suatu produk/jasa, “Wah, sudah 4 orang yang ditawari, kok pada ga mau ya?” Baru 4 orang yang ditawari semua menolak lalu serasa dunia sudah runtuh.
Rasul berkata, musuh terbesar kita adalah sebetulnya diri kita sendiri. Jihad yang paling besar adalah melawan hawa nafsu. Hawa nafsu disini bukan hanya berarti kemarahan yang meledak-ledak, tetapi juga nafsu untuk hidup bermalas-malasan, nafsu untuk gampang menyerah, nafsu untuk pasrah kepada keadaan tanpa ada usaha, dll.
Topics: Human Development | No Comments »
Jangan Tinggalkan Aku Sendiri
By Eep | June 22, 2009
Udara dingin menusuk tulangku
Dingiiiin sekali membuatku menggigil
Saat itu ingin sekali kumemelukMu
MendekapMu dan tak ingin berpisah lagi
Kekasihku, masih adakah cintaMu untukku?
Jangan tinggalkan aku sendiri.
Aku tak sanggup hidup tanpaMu.
Aku tak sanggup menanggung beban ini tanpaMu
Hidupku bergelimang salah dan dosa
Hidupku sering berbelok tanpa tujuan
Hidupku sering terasa hampa
Hidupku sering terasa kering
Terasa sesak dadaku pagi ini
Begitu sesak, sesak, dan sesak
Hampir ku tak sanggup menarik lagi
Nafas memburu dari dadaku
Mataku tak sadar terasa panas
Ada air mengalir deras
Menetes ke atas pangkuan
Membasahi lantai yang dingin
Adakah kesempatan yang lain untukku?
Untuk tetap dapat memujaMu wahai kekasih.
Ampuni aku wahai Dzat yang Maha Kasih
Jadikan aku orang yang Kau kasihi.
Topics: Religius & Spiritual | No Comments »
Garuda Di Dadaku
By Eep | June 21, 2009
Today is family day
. Saya beserta istri tercinta, tersayang, dan anak-anak jam 11 siang main ke Ciwalk. Tadinya sih mau nonton acara Vote Komodo as New 7 Wonders Nature, tapi ternyata baru sore hari. Ya sudah anak-anak maen dulu di TimeZone, lalu beli mampir ke Toko Gunung Agung, beli beberapa buku. Anak-anak bertanya, “Ayah boleh beli buku komik?”, dan mereka mengambil buku komik PowerPuff Girls. Karena masih lama, ya sudah, nonton Garuda Di Dadaku.
Film bertema perjuangan keras seorang anak bernama Bayu dalam meraih cita-citanya ingin masuk sebagai team nasional sepak bola PSSI. Dari segi cerita dan pesan yang ingin disampaikan, film ini bagus sekali, meskipun menurut saya masih berada di bawah Laskar Pelangi. Beberapa adegan kocaknya juga menjadikan film Garuda di Dadaku ini menjadi tontonan yang sangat menghibur. Ya, ditengah-tengah kebekuan ide para sineas lainnya yang terus saja memproduksi film-film hantu ga mutu, film ini menjadi alternatif tontonan yang sangat baik untuk anak-anak. Keluar bioskop Ciwalk XXI, anak-anak langsung minta dibelikan CD OST-nya. Tetapi ternyata di toko musik belum tersedia.
Oh ya.. ternyata anak-anak juga sepertinya mewarisi gaya membaca yang cepat saya. Saya kalau beli majalah, 30 menit kemudian majalah tersebut sudah dalam status bekas, karena sudah dibaca semuanya. Anak-anak pun buku komik yang baru saja tadi dibeli, sudah tamat pula dibaca. Saya tersenyum geli, “Kalau gitu gimana kalau bukunya kita taruh lagi aja di toko buku, dituker dengan seri berikutnya?” Heheheh.
Sore hari, Tangga pun perform di panggung, anak-anak langsung duduk paling depan dan menikmati grup band tersebut bernyanyi. Ah.. sudah terbayang kalau mereka abege nanti, duh pasti deh teriak-teriak mengelu-elukan penyanyi idolanya. Ala maak..
Topics: Audio & Video Hobby, Family | No Comments »
Abu Sangkan: Jadilah Solusi Untuk Banyak Orang
By Eep | June 21, 2009
Ya.. barusan saya membaca status kawan saya di Facebook:
Manusia diciptakan bukan untuk jadi org suci, yg suci hanya malaikat….Tapi manusia diciptakan untuk memberikan penghidupan bagi sesamanya……..itulah ibadah sesungguhnya. Kata Abu Sangkan…….. Pesannya jadilah solusi untuk banyak org………dan lihat apa yg terjadi………
Saya langsung bilang: setuja sekali. Saya bukan tidak mau jadi orang suci, sulitnya itu minta ampun. Jalan dikit banyak pantat bahenol. Lirik dikit banyak yang bening-bening. Jauh lebih susah menghindarinya dibandingkan mencoba untuk menjadi orang berguna bagi sesama dan masyarakat. Banyak di antara kita yang lupa hakikat penciptaan kita sebagai manusia. Ya termasuk saya juga suka lupa. Manusia itu diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Khalifah itu tidak hanya berarti menjadi pemimpin buat orang lain, tetapi juga pemimpin bagi diri sendiri. Kalau hidup kita hanya biasa-biasa saja tanpa ada kebermanfaatan bagi kehidupan, maka sesungguhnya kita sudah menyalahi blue print kita sebagai manusia. Dan itu sudah jelas akan dimintai tanggung jawabnya.
Jadi untuk apa terus menerus ngedumel mikirin hidup berkesusahan, tanpa pernah mau bersyukur dan berbuat terbaik yang sebisa kita lakukan. Terutama: menjadi solusi bagi orang lain. Solusi dan kebergunaan kita tidak terbatas semata harta yang kita punya, tetapi bisa jadi berupa sedekah menyenangkan orang lain, berempati terhadap orang lain, membantu dengan pemikiran, dan yang paling minimal dan serendah-rendahnya bantuan adalah membantu dengan doa. Wallahu alam.
Topics: Human Development, Religius & Spiritual | No Comments »
Keadilan Dalam Rumah Tangga
By Eep | June 20, 2009
Laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Tuhan dengan derajat yang setara. Kedudukan pria dan wanita di mata Tuhan adalah sama, yang membedakannya cuma ketakwaannya. Laki-laki diciptakan tidak untuk menguasai perempuan, pun sebaliknya. Memang ada beberapa perbedaan dalam tugas dan tanggung jawabnya, tetapi itu bukanlah untuk membedakan derajatnya, tetapi justru untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Kalau melihat kecenderungan sekarang ini, baik laki-laki maupun perempuan sudah banyak yang bergeser dari nilai-nilai kefitrahan sebagai laki-laki dan perempuan (dalam konteks suami dan istri).
Ada yang menerapkan ajaran Islam “Arijalu Kowamuna Ala Nisa” secara harafiah dan sepotong-sepotong tanpa melihat ayat berikutnya atau sebelumnya. Sehingga banyak laki-laki yang merasa bahwa dirinya adalah pemilik dari wanita, mau diapakan saja sah-sah saja. Padahal dalam rumah tangga sesungguhnya laki-laki hanyalah sebagai pemimpin, bukan penguasa. Wanita sebagai istri juga memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan laki-laki sebagai suami. Setara, bukan sama, sebagai contoh: laki-laki tidak mungkin hamil dan perempuan tidak mungkin menghamili.
Suami kadangkala karena pekerjaan yang berat dan tugas yang menyita waktu seringkali mengabaikan keadilan bagi keluarganya. Waktu yang kurang berkualitas dengan istri, anak-anak, dll. Sibuk dengan pekerjaan dan bisnis, sehingga tidak ada lagi waktu yang cukup memuaskan bagi keluarga. Lupa kalau mendidik dan mengasuh anak bukanlah tugas semata-mata para istri, tetapi harus ada kesamaan dalam pola mendidik anak. Suami karena waktunya sibuk, lalai memberikan hak kepada istri, berupa kesenangan, main bersama, jalan bersama, atau refreshing bersama keluarga.
Pun wanita sebagai istri, banyak juga yang berlaku tidak adil kepada suami. Kalau pergi keluar rumah, berdandan dan wangi semerbak, tetapi kalau di rumah, penampilan ala kadarnya bahkan seringkali bau kecut yang keluar dari badannya dibandingkan semerbak parfum. Atau istri yang lebih sibuk kumpul arisan dan ngerumpi dengan ibu-ibu lainnya, sehingga lupa waktu untuk mengasuh dan mendidik anak. Memang, dijaman serba sulit ini, istri kadang dituntut untuk turut serta membantu finansial keluarga. Namun tentunya, keluarga tetap harus menjadi prioritas dan harus pandai membagi waktu.
Perkara keadilan dalam rumah tangga ini bukanlah persoalan yang gampang. Kalau gampang, tentu tak banyak terjadi perceraian, perselisihan dalam keluarga. Kuncinya adalah kita harus mengerti tugas dan kewajiban diri kita masing-masing. Tidaklah semata-mata Tuhan menciptakan manusia ini berpasang-pasangan, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa jika tanpa maksud tertentu yang Tuhan inginkan. Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai menerima amanah dari Allah SWT. Amein.
Wallahu alam..
Topics: Family, Religius & Spiritual, World of Children | No Comments »
Hidup Tanpa Tujuan dan Impian
By Eep | June 19, 2009
Satu hari, saya berniat mandi pagi dengan air hangat. Tapi bangun dari tempat tidur depan televisi rasanya malas. Akhirnya air mandi pun dingin kembali. Maksud hati mandi jam 7 pagi, akhirnya mandi jam 10. Setelah itu, saya pergi dari rumah, tapi masih tidak tahu mau pergi kemana. Akhirnya diputuskan naik angkot jurusan Kebon Kelapa. Itu pun masih tidak tahu kemana tujuannya. Tiba-tiba saya turun di Karapitan, kemudian saya naik angkot Ledeng, juga masih belum tahu mau kemana. Saya pikir ah sudahlah naik angkot saja dulu. Di angkot tiba-tiba terbersit mau turun di Jl. Banda saja, mau ke Jonas Photo, tetapi apa lacur, ternyata saya sudah berada di Jl. Setiabudhi, sudah dekat ke terminal Ledeng.
Ya sudah, saya naik angkot lagi, blus masuk ke angkot Cicaheum. Tiba-tiba pengen turun di Borma Setiabudi. Ya sudah turun di Borma. Saya masuk dan cuma pelanga-pelongo lihat etalase. Tidak ada satu barang pun yang saya beli. Keluar dari Borma, saya naik angkot Kelapa, tadinya mau pulang saja lah. Tapi lewat BEC, saya turun juga. Dalam hati saya sudah lama tidak cuci mata di BEC. Dulu sih saking seringnya ke BEC, sampai ada orang yang nanya: “Ko Eep, tokonya di sebelah mana? Jualan apa?”
Tapi di BEC pun saya cuma menyusuri lorong-lorong pertokoan. Naik ke atas, duduk di foodcourt, beli jus sirsak. Ya sudah akhirnya benar-benar pulang. Sampai di rumah, baru sadar kalau hari itu saya harus menyelesaikan proposal, harus kirim pesanan, harus selesaikan laporan, dll. Saya pun menyesal pergi, tanpa ada hasil, dan hanya buang-buang waktu.
Topics: Family, Human Development, Religius & Spiritual | No Comments »
Anak Belajar Dari Apa Yang Mereka Lihat dan Dengar
By Eep | June 18, 2009
Masih ingat dengan soal ulangan yang diberikan di sekolah dasar anak saya:
Ayah kalau olahraga di:
a. Jalan
b. Lapangan olahraga
c. Halaman
Anak saya menjawab: c. Halaman. Ternyata oleh gurunya disalahkan. Ya anak saya melihat orang tuanya olah raga di halaman rumah. Lagian, di kota besar hari gini jarang banget lapangan olah raga, yang banyak adalah fitness center.
Lalu ada pertanyaan lagi soal ujian di Papua:
Kalau kita ada bencana banjir, kita harus pergi ke…..? Si anak menjawab: ke hotel. Oleh gurunya disalahkan, yang benar katanya ke bukit. Selidik punya selidik si anak ternyata berasal dari Jakarta, jadi kalau banjir ya pergi ke hotel, nginep di kamar yang lebih tinggi dari banjir.
Nah.. inilah pola pendidikan yang masih berlaku di negeri tercinta ini. Kreativitas menjadi terpasung. Ada kawan saya yang anaknya kalau buang sampah itu ke kantong plastik yang disediakan di rumah, supaya lebih gampang diangkut. Ternyata jawabnya harusnya di keranjang sampah, bahkan menjawab di tempat sampah pun disalahkan, hanya gara-gara kunci jawaban yang diberikan adalah keranjang sampah, bukan tempat sampah.
Jadi pendidikan kita ini masih terpola pada satu pattern bahwa a adalah a, b adalah b, yang memasung kecerdasan anak untuk berpikir lebih kreatif dan menjawab segala sesuatu hal berdasarkan apa yang dia lihat dan dia dengar. Modus pemaksaan jawaban yang benar adalah jawaban dari guru rupanya masih terus berlangsung hingga kini. Celakanya, kalau gurunya ga pernah update pengetahuannya gimana? Sekarang udah jaman blog, jaman fesbuk, dll., repot kalau ga terus berkembang.
Topics: Family, Pendidikan, Seni & Budaya, World of Children | 2 Comments »






